Jumat, 11 Mei 2012
Kamis, 15 Desember 2011
IODOMETRI DAN IODIMETRI
Pada titrasi
iodometri, analit yang dipakai adalah oksidator yang dapat bereaksi dengan I-
(iodide) untuk menghasilkan I2, I2 yang terbentuk secara
kuantitatif dapat dititrasi dengan larutan tiosulfat. Dari pengertian diatas
maka titrasi iodometri adalah dapat dikategorikan sebagai titrasi kembali.
Iodida adalah
reduktor lemah dan dengan mudah akan teroksidasi jika direaksikan dengan
oksidator kuat. Iodida tidak dipakai sebagai titrant hal ini disebabkan karena
factor kecepatan reaksi dan kurangnya jenis indicator yang dapat dipakai untuk
iodide. Oleh sebab itu titrasi kembali merubakan proses titrasi yang sangat
baik untuk titrasi yang melibatkan iodide. Senyawaan iodide umumnya KI
ditambahkan secara berlebih pada larutan oksidator sehingga terbentuk I2.
I2 yang terbentuk adalah equivalent dengan jumlah oksidator yang
akan ditentukan. Jumlah I2 ditentukan dengan menitrasi I2
dengan larutan standar tiosulfat (umumnya yang dipakai adalah Na2S2O3)
dengan indicator amilum jadi perubahan warnanya dari biru tua kompleks amilum-I2
sampai warna ini tepat hilang.
Reaksi yang
terjadi pada titrasi iodometri untuk penentuan iodat adalah sebagai berikut:
IO3-
+ 5 I- + 6H+ -> 3I2 + H2O
I2
+ 2 S2O32- -> 2I- + S4O62-
Setiap mmol IO3-
akan menghasilkan 3 mmol I2 dan 3 mmol I2 ini akan tepat
bereaksi dengan 6 mmol S2O32- (ingat 1 mmol I2
tepat bereaksi dengan 2 mmol S2O32-) sehingga
mmol IO3- ditentukan atau setara dngan 1/6 mmol S2O32-.
Mengapa kita
menitrasi langsung antara tiosulfat dengan analit? Beberapa alasan yang dapat
dijabarkan adalah karena analit yang bersifat sebagai oksidator dapat
mengoksidasi tiosulfat menjadi senyawaan yang bilangan oksidasinya lebih tinggi
dari tetrationat dan umumnya reaksi ini tidak stoikiometri. Alasa kedua adalah
tiosulfat dapat membentuk ion kompleks dengan beberapa ion logam seperti
Besi(II).
Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi Iodometri adalah sebagai
berikut:
Penambahan
amilum sebaiknya dilakukan saat menjelang akhir titrasi, dimana hal ini
ditandai dengan warna larutan menjadi kuning muda (dari oranye sampai
coklat akibat terdapatnya I2 dalam jumlah banyak), alasannya
kompleks amilum-I2 terdisosiasi sangat lambat akibatnya maka banyak
I2 yang akan terabsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan pada
awal titrasi, alasan kedua adalah biasanya iodometri dilakukan pada media asam
kuat sehingga akan menghindari terjadinya hidrolisis amilum
Titrasi harus
dilakukan dengan cepat untuk meminimalisasi terjadinya oksidasi iodide oleh
udara bebas. Pengocokan pada saat melakukan titrasi iodometri sangat diwajibkan
untuk menghindari penumpukan tiosulfat pada area tertentu, penumpukkan
konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan terjadinya dekomposisi tiosulfat untuk
menghasilkan belerang. Terbentuknya reaksi ini dapat diamati dengan adanya
belerang dan larutan menjadi bersifat koloid (tampak keruh oleh kehadiran S).
S2O32-
+ 2H+ ---> H2SO3 + S
Pastikan jumlah
iodide yang ditambahkan adalah berlebih sehingga semua analit tereduksi dengan
demikian titrasi akan menjadi akurat. Kelebihan iodide tidak akan mengganggu
jalannya titrasi redoks akan tetapi jika titrasi tidak dilakukan dengan segera
maka I- dapat teroksidasi oleh udara menjadi I2.
Bagaimana
menstandarisasi larutan tiosulfat?
Tiosulfat yang
dipakai dalam titrasi iodometri dapat distandarisasi dengan menggunakan senyawa
oksidator yang memiliki kemurnian tinggi (analytical grade) seperti K2Cr2O7,
KIO3, KBrO3, atau senyawaan tembaga(II).
Bila digunakan
Cu(II) maka pH harus dibuffer pada pH 3 dan dipakai tiosianat untuk masking
agent, KSCN ditambahkan pada waktu mendekati titik akhir titrasi dengan tujuan
untuk menggantikan I2 yang teradsorbsi oleh CuI. Bila pH yang
digunakan tinggi maka tembaga(II) akan terhidrolisis dan akan terbentuk
hidroksidanya. Jika keasaman larutan sangat tinggi maka cenderung terjadi
reaksi I- sebagai akibat adanya Cu(II) dalam larutan yang megkatalis reaksi
tersebut.
Beberapa
contoh reaksi iodometri adalah sebagai berikut
2MnO4-
+ 10 I- + 16 H+ <---> 2Mn2+
+ 5 I2 + 8H2O
Cr2O72-
+ 6I- <---> 14 H+ <---> 2Cr3+
+ 3 I2 + 7H2O
2Fe3+
+ 2I- <---> 2Fe2+ + I2
2 Ce4+
+ 2I- <---> 2Ce3+ + I2
Br2
+ 2I- <-> 2Br- + I2
I.
TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan
praktikum ini adalah untuk menentukan kadar tembaga dalam kristal CuSO4.5
H2O.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Istilah oksidasi
mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi,
sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi.Berarti
proses oksidasi disertai hilangnya elektron sedangkan reduksi memperoleh
elektron. Oksidator adalah senyawa di mana atom yang terkandung mengalami
penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung
mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus selalu berlangsung
bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator reduktor
mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja (Khopkar, 2003).
Oksidator lebih
jarang ditentukan dibandingkan reduktor. Namin demikian, oksidator dapat
ditentukan dengan reduktor. Reduktor yang lazim dipakai untuk penentuan
oksidator adalah kalium iodida, ion titanium(III), ion besi(II), dan ion
vanadium(II). Cara titrasi redoks yang menggunakan larutan iodium sebagai
pentiter disebut iodimetri, sedangkan yang menggunakan larutan iodida sebagai
pentiter disebut iodometri (Rivai, 1995).
Dalam proses
analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ion iodida
digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan
pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan
iodium. Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Akan tetapi
banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida,
dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida
ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium,
yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. Reaksi antara
iodium dan tiosulfat berlangsung secara sempurna (Underwood, 1986).
Iodium hanya sedikit
larut dalam air (0,00134 mol per liter pada 25 0C), tetapi agak
larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. Larutan iodium standar
dapat dibuat dengan menimbang langsung iodium murni dan pengenceran dalam botol
volumetrik. Iodium, dimurnikan dengan sublimasi dan ditambahkan pada
suatu larutan KI pekat, yang ditimbang dengan teliti sebelum dan sesudah
penembahan iodium. Akan tetapi biasanya larutan distandarisasikan
terhadap suatu standar primer, As2O3 yang paling biasa
digunakan. (Underwood, 1986).
Larutan standar
yang dipergunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natrium tiosulfat.
Garam ini biasanya tersedia sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O.
Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi
harus distandarisasi terhadap standar primer. Larutan natrium tiosulfat tidak
stabil untuk waktu yang lama. Sejumlah zat padat digunakan sebagai standar
primer untuk larutan natrium tiosulfat. Iodium murni merupakan standar yang
paling nyata, tetapi jarang digunakan karena kesukaran dalam penanganan dan
penimbangan. Lebih sering digunakan pereaksi yang kuat yang membebaskan iodium
dari iodida, suatu proses iodometrik (Underwood, 1986).
Metode titrasi
iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada
titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung
(kadang-kadang dinamakan iodometri), adalah berkenaan dengan titrasi
dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Potensial reduksi normal dari
sistem reversibel:
I2(solid) 2e -----> 2I-
adalah 0,5345
volt. Persamaan di atas mengacu kepada suatu larutan air yang jenuh dengan
adanya iod padat; reaksi sel setengah ini akan terjadi, misalnya, menjelang
akhir titrasi iodida dengan suatu zat pengoksid seperti kalium permanganat,
ketika konsentrasi ion iodida menjadi relatif rendah. Dekat permulaan, atau
dalam kebanyakan titrasi iodometri, bila ion iodida terdapat dengan berlebih,
terbentuklah ion tri-iodida:
I2(aq) + I- -----> I3-
Karena iod mudah
larut dalam larutan iodida. Reaksi sel setengah itu lebih baik ditulis sebagai:
I3- + 2e ----->
3I-
Dan potensial
reduksi standarnya adalah 0,5355 volt. Maka, iod atau ion
tri-iodida merupakan zat pengoksid yang jauh lebih lemah ketimbang kalium
permanganat, kalium dikromat, dan serium(IV) sulfat (Bassett, J. dkk., 1994).
Dalam kebanyakan
titrasi langsung dengan iod (iodimetri), digunakan suatu larutan iod dalam
kalium iodida, dan karena itu spesi reaktifnya adalh ion tri-iodida, I3-.
Untuk tepatnya, semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi iod seharusnya
ditulis dengan I3- dan bukan dengan I2,
misalnya:
I3- + 2S2O32-
==> 3I- + S4O62-
akan lebih
akurat daripada:
I2 + 2S2O32-
==> 2I- + S4O62-
(Bassett, J.
dkk., 1994).
Warna larutan
0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai
indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang
kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan
kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan
tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena
warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka
terhadap iodium. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada
larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida (Underwood, 1986).
III.
ALAT DAN BAHAN
A. Alat
Alat-alat yang
digunakan dalam percobaan ini adalah neraca analitik, pipet volum, labu ukur
100 mL, erlenmeyer 250 mL, buret, dan beaker gelas., pipet tetes, dan botol
semprot.
B. Bahan
Bahan-bahan yang
digunakan dalam percobaan ini adalah KIO3, H2SO4
2 N, larutan KI 10%, larutan Na2S2O3, larutan
amilum 1%, garam (pembuatan larutan sampel), larutan KCNS atau NH4CNS
10% dan akuades.
IV. PROSEDUR KERJA
A. Pembakuan larutan Na2S2O3
dengan larutan baku KIO3
1.
Dengan teliti ditimbang 0,35 gram KIO3
dilarutkan dalam akuades kemudian memasukan secara kuantitatif ke dalam labu
ukur 100 ml
2.
Sampai batas diencerkan, dipipet 25 ml larutan baku KIO3 dan
dimasukan dalam Erlenmeyer
3.
2 ml H2SO4 2 N dan 10 ml KI 10 %,
ditambahkan kemudian dikocok. Larutan ini dititrasi dengan larutan baku Na2S2O3
sampai larutan berwarna kuning muda.
4.
Dengan akuades 25 ml diencerkan dan ditambahkan dengan
4 ml larutan amilum 10 %, titrasi dilanjutkan sampai warna biru hilang.
B.
Penentuan Kadar Cu dengan Larutan Baku Na2S2O3
- Dengan teliti ditimbang ± 1,0 gram garam CuSO4, dilarutkan dalam akuades, dimasukkan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 100 mL,
- Sampai tanda batas diencerkan, dan mengocok secara sempurna. Diambil 5 mL larutan ke dalam labu ukur 100 mL, mengencerkan dengan akuades sampai tanda batas, dan dikocok sempurna.
- 10 mL larutan sampel dipipet, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL, menambahkan 2 mL KI 10%, kemudian dikocok.
- I2 yang dihasilkan dititrasi dengan larutan baku thio sampai larutan berwarna kuning muda, kemudian menambahkan 2 mL larutan amilum 1% dan dilanjutkan titrasi sampai warna biru hampir hilang.
- 2 mL larutan KCNS 10%, ditambahkan warna biru akan timbul lagi, cepat-cepat dilanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang. Dilakukan duplo
V.
DATA HASIL PENGAMATAN
A. Hasil dan Perhitungan
1. Hasil
No
|
Langkah percobaan
|
Hasil pengamatan
|
1.
|
Pembakuan larutan Na2S2O3
dengan KIO3
- Menimbang
0,35 gr KIO3 + akuades dalam 100 ml labu ukur, Mengencerkan
- 25
ml KIO3 + 3 ml H2SO4 2N+ KI 10%,
- mentitrasi
dengan Na2S2O3 sampai warna kuning muda
- +
2 tetes amilum 1% mentitrasi sampai warna biru tepat hilang
|
Larutan kuning
V titrasi 1 = 0,3 ml
V titrasi 2 = 0,1 ml
V total = 0,4 ml
|
2.
|
Penentuan Kadar Cu dengan Na2S2O3
- Menimbang
1 gr garam
- Melarutkan
dalam akuades dan mengencerkan
- 10
ml larutan sampel + 2 ml KI 10% dan mengocok
- Menitrasi
sampai warna kuning muda
- +
2 ml amilum 1% dan titrasi
- +
2 tetes KCNS 10%
|
kuning tua menjadi kuning
muda
V = 0-3,6 ml
V = 3,6 – 7,7 ml
V = 7,7 – 8,2 ml
Tidak timbul warna biru lagi
V = 0-3,2 ml
V = 3,2 – 7,3 ml
V = 7,3 – 7,9 ml
V total titrasi 1 dan titrasi 2 =
1,1 ml
V rata-rata = 0,55 ml
|
2.
Perhitungan
-
Pembuatan Larutan Baku KIO3 0,1N
Massa KIO3 = 0,36 gr
BM KIO3 = 214,0064 gr/mol
V
pengenceran = 0,1 L
N KIO3
= ………..?
N KIO3
=
=
= 0,1009 N
- Pembakuan
Larutan Baku Na2S2O3 dengan Larutan Baku KIO3
0,1N
N KIO3
= 0,1009 N
V KIO3 = 25 mL
V Na2S2O3
= 0,4 mL
N Na2S2O3
= ……..?
N Na2S2O3
=
= 6,25N
- Penentuan
Kadar Cu2+ dalam CuSO4.5H2O
V Na2S2O3 =
0,55 mL
N Na2S2O3
= 6,25 N
Massa
sampel = 1 gr
% Cu2+ dalam sampel = ……?
2 S2O32- +
I2 S4O62- + 2I-
2 mgrek S2O32-
= mgrek I2
2 (V x N) S2O32-
= mol I2 x e I2
mol I2 = 2
= 2
= 0,0034375 mol
Reaksi :
2 Cu2+ + 4 I-
2 CuI- + I2
mol Cu2+ = 2 mol I2
= 2 x 3,4375 x 10-3 mol
= 6,8 x 10-3 mol
massa
Cu2+ = mol Cu2+ x BA Cu2+
= 6,8 x 10-3 mol x 63,546
mol
= 0,4321 gr
% Cu dalam sampel
=
= 43,21 %
B.
Pembahasan
Garam KIO3
mampu mengoksidasi iodida menjadi iod secara kuantitatif dalam larutan
asam. Oleh karena itu digunakan sebagai larutan standar dalam proses
titrasi Iodometri ini. Selain itu juga karena sifat Iod itu sendiri yang
mudah teroksidasi oleh oksigen dalam lingkungan sehingga iodida mudah terlepas.
Reaksi ini sangat kuat dan hanya membutuhkan sedikit sekali kelebihan ion
hidrogen untuk melengkapi reaksinya. Namun kekurangan utama dari garam
ini sebagai standar primer adalah bahwa bobot ekivalennya yang rendah. Larutan
standar ini sangat stabil dan menghasilkan iod bila diolah dengan asam :
IO3-
+ 5I- + 6H+ 3 I2
+ 3H2O
Larutan KIO3
memiliki dua kegunaan penting, pertama, adalah sebagai sumber dari sejumlah iod
yang diketahui dalam titrasi, ia harus ditambahkan kepada larutan yang
mengandung asam kuat, ia tak dapat digunakan dalam medium yang netral atau
memiliki keasaman rendah. Yang kedua, dalam penetapan kandungan asam dari
larutan secara iodometri, atau dalam standarisasi larutan asam keras.
Larutan baku KIO3 0,1 N dibuat dengan
melarutkan beberapa gram massa
kristal KIO3 yang berwarna putih dengan menggunakan aquades dan
mengencerkannya.
1. Pembakuan Larutan Na2S2O3
dengan Larutan Baku KIO3
Percobaan ini
menggunakan metode titrasi iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana
mula-mula iodium direaksikan dengan iodida berlebih, kemudian iodium yang
terjadi dititrasi dengan natrium thiosulfat. Larutan baku yang digunakan untuk standarisasi
thiosulfat sendiri adalah KIO3 dan terjadi reaksi:
Oksidator +
KI
I2
I2
+ 2Na2S2O3 2NaI + Na2S4O6
Natrium
tiosulfat dapat dengan mudah diperoleh dalam keadaan kemurnian yang tinggi,
namun selalu ada saja sedikit ketidakpastian dari kandungan air yang tepat,
karena sifat flouresen atau melapuk-lekang dari garam itu dan karena alasan-alasan
lainnya. Karena itu, zat ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan
sebagai larutan baku
standar primer. Natrium tiosulfat merupakan suatu zat pereduksi, dengan
persamaan reaksi sebagai berikut :
2S2O32-
S4O62- + 2e-
Pembakuan
larutan natrium tiosulfat dapat dapat dilakukan dengan menggunakan kalium
iodat, kalium kromat, tembaga dan iod sebagai larutan standar primer, atau
dengan kalium permanganat atau serium (IV) sulfat sebagai larutan standar
sekundernya. Namun pada percobaan ini senyawa yang digunakan dalam proses
pembakuan natrium tiosulfat adalah kalium iodat standar.
Larutan
thiosulfat sebelum digunakan sebagai larutan standar dalam proses iodometri ini
harus distandarkan terlebih dahulu oleh kalium iodat yang merupakan
standar primer. Larutan kalium iodat ini ditambahkan dengan asam sulfat
pekat, warna larutan menjadi bening. Dan setelah ditambahkan dengan
kalium iodida, larutan berubah menjadi coklat kehitaman. Fungsi
penambahan asam sulfat pekat dalam larutan tersebut adalah memberikan suasana
asam, sebab larutan yang terdiri dari kalium iodat dan klium iodida berada
dalam kondisi netral atau memiliki keasaman rendah. Reaksinya adalah
sebagai berikut :
IO3-
+ 5I- + 6H+
→ 3I2 +
3H2O
Indikator yang
digunakan dalam proses standarisasi ini adalah indikator amilum 1%.
Penambahan amilum yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan
agar amilum tidak membungkus iod karena akan menyebabkan amilum sukar dititrasi
untuk kembali ke senyawa semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera
mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah menuap. Pada titik
akhir titrasi iod yang terikat juga hilang bereaksi dengan titran sehingga
warna biru mendadak hilang dan perubahannya sangat jelas. Penggunaan
indikator ini untuk memperjelas perubahan warna larutan yang terjadi pada saat
titik akhir titrasi. Sensitivitas warnanya tergantung pada pelarut yang
digunakan. Kompleks iodium-amilum memiliki kelarutan yang kecil dalam
air, sehingga umumnya ditambahkan pada titik akhir titrasi. Jika larutan
iodium dalam KI pada suasana netral dititrasi dengan natrium thiosulfat, maka :
I3-
+ 2S2O32- 3I-
+ S4O62-
S2O32-
+ I3- S2O3I-
+ 2I-
2S2O3I-
+ I- S4O62- + I3-
S2O3I-
+ S2O32- S4O62-
+ I-
Dari hasil
perhitungan diketahui besarnya konsentrasi natrium thiosulfat yang digunakan
sebagai larutan baku
standar sebesar 6,25 N.
2. Penentuan Kadar Cu2+
dengan Larutan Baku Na2S2O3
Pada penentuan
kadar Cu dengan larutan baku
Na2S2O3 akan terjadi beberapa perubahan warna
larutan sebelum titik akhir titrasi. Tembaga murni dapat digunakan
sebagai standar primer untuk natrium thiosulfat dan direkomendasikan jika
thiosulfat harus digunakan untuk menetapkan tembaga. Potensial standar
pasangan Cu(II) – Cu(I) adalah +0,15 V dan karena itu iod merupakan
pengoksidasi yang lebih baik dari pada ion Cu(II). Tetapi bila ion iodida
ditambahkan ke dalam larutan Cu(II) akan terbentuk endapan Cu(I).
2Cu2+
+ 4I- 2CuI(s) + I2
Penentuan kadar
Cu2+ dalam larutan dengan bantuan larutan natrium tiosulfat yang dilakukan
mengencerkan 5 mL sampel garam hingga 100 mL dan mengambil 10 mL hasil
pengenceran tersebut untuk ditambahkan dengan larutan KI 10% dan menitrasi
dengan larutan baku natrium tiosulfat hingga larutan yang semula berwarna
coklat tua menjadi larutan yang berwarna kuning muda. Kemudian larutan
tersebut ditambahkan dengan 4 mL larutan amilum 1 % menghasilkan larutan yang
semula berwarna kuning muda menjadi biru tua, Penambahan indikator amilum 1%
ini dimaksudkan agar memperjelas perubahan warna yang terjadi pada larutan
tersebut. kemudian larutan tersebut dititrasi kembali dengan larutan natrium
tiosulfat hingga warna biru pada larutan tepat hilang. Untuk lebih
memperjelas terjadinya reaksi tersebut, ke dalam larutan ditambahkan
amilum. Bertemunya I2 dengan amilum ini akan menyebabakan
larutan berwarna biru kehitaman. Selanjutnya titrasi dilanjutkan kembali
hingga warna biru hilang dan menjadi putih keruh.
I2 +
amilum
I2-amilum
I2-amilum
+ 2S2O32- 2I- +
amilum + S4O6-
Hal yang perlu
diperhatikan setelah penambahan amilum adalah adanya sifat adsorpsi pada
permukaan endapan tembaga(I) iodida. Sifat ini menyebabkan terjadinya
penyerapan iodium dan apabila iodium ini dihilangkan dengan cara titrasi, maka
titik akhir titrasi akan tercapai terlalu cepat. Oleh karena itu, sebelum titik
akhir titrasi tercapai, yaitu pada saat warna larutan yang dititrasi dengan Na2S2O3
akan berubah dari biru menjadi bening, dilakukan penambahan kalium tiosianat
KCNS.
Penambahan KCNS
menyebabkan larutan kembali berwarna biru. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:
2Cu2+
+ 2I- + 2SCN- → 2CuSCN ↓ + I2
Endapan
tembaga(I) tiosianat yang terbentuk mempunyai kelarutan yang lebih rendah
daripada tembaga(I) iodida sehingga dapat memaksa reaksi berjalan sempurna.
Selain itu, tembaga(I) tiosianat mungkin terbentuk pada permukaan tembaga(I)
iodida yang telah mengendap. Reaksinya sebagai berikut:
CuI ↓ + SCN-
→ CuSCN ↓ + I-
Penambahan
larutan KCNS ini bertujuan sebagai larutan yang mengembalikan reaksi penambahan
indikator amilum dalam larutan sehingga larutan menjadi kembali biru.
Reaksi yang berlangsung adalah
2Cu2+
+ 4 I- 2CuI + I2
2S2O32-
+ I2 S4O62-+
2I-
dari hasil
pengamatan dan perhitungan, didapatkan jumlah volume titrasi larutan natrium
tiosulfat yang dibutuhkan untuk merubah larutan dari warna coklat tua menjadi
kuning muda setelah penambahan amilum maka larutan menjadi bening dan setelah
penambahan KCNS maka larutan menjadi jernih kembali. Dari hasil perhitungan
diperoleh massa
tembaga pada larutan sampel sebesar 0,4321 gram dan kadar tembaga (%Cu2+)
dalam larutan sample tersebut adalah sebesar 43,21 %.
VI.
KESIMPULAN
Berdasarkan
tujuan, perhitungan dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat
ditarik beberapa kesimpulan berikut :
- Ada dua cara analisis menggunakan senyawa iodium yaitu titrasi iodimetri atau dengan iodometri dimana iodium terlebih dahulu dioksidasi oleh oksidator misalnya KI.
- Kadar tembaga dalam garam CuSO4.5H2O dapat ditentukan dengan cara iodometri.
- Indikator yang dipakai adalah amilum karena amilum sangat peka terhadap iodium dan terbentuk kompleks amilum berwarna biru cerah, saat ekivalen amilum terlepas kembali.
- Massa tembaga pada larutan diketahui sebesar 0,4321 gram dan kadar tembaga dalam larutan sebesar 43,21 %.
DAFTAR
PUSTAKA
Basset. J etc.
1994. Buku Ajar Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Khopkar, S. M.
1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Rivai, Harrizul.
1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Penerbit UI. Jakarta.
ARGENTOMETRI
Titrasi Pengendapan: Argentometri
Titrasi pengendapan merupakan titrasi
yang melibatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak mudah larut
antara titrant dan analit. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis
ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali
titran ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang menggangu
titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah
melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan
ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu
titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan
menggunakan larutan standart perak nitrat AgNO3. Titrasi argentometri
tidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halide akan tetapi juga
dapat dipakai untuk menentukan merkaptan (thioalkohol), asam lemak, dan
beberapa anion divalent seperti ion fosfat PO43- dan ion arsenat
AsO43-.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan
yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang
banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran
akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak
mudah larut AgCl.
Ag(NO3)(aq) + NaCl(aq) -> AgCl(s) + NaNO3(aq)
Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak
akan bereaksi dengan indicator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO42-
dimana dengan indicator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna
coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Inikator
lain yang bisa dipakai adalah tiosianida dan indicator adsorbsi.
Berdasarkan jenis indicator dan teknik titrasi yang dipakai maka
titrasi argentometri dapat dibedakan atas Argentometri dengan metode Mohr, Volhard, atau Fajans.
Selain menggunakan jenis indicator diatas maka kita juga dapat
menggunakan metode potensiometri untuk menentukan titik ekuivalen.
Ketajaman titik ekuivalen
tergantung dari kelarutan endapan yang terbentuk dari reaksi antara
analit dan titrant. Endapan dengan kelarutan yang kecil akan
menghasilkan kurva titrasi argentometri yang
memiliki kecuraman yang tinggi sehingga titik ekuivalen mudah
ditentukan, akan tetapi endapan dengan kelarutan rendah akan
menghasilkan kurva titrasi yang landai sehingga titik ekuivalen agak
sulit ditentukan. Hal ini analog dengan kurva titrasi antara asam kuat
dengan basa kuat dan anatara asam lemah dengan basa kuat.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengendapan
Keberhasilan proses pengendapan sangat dipengaruhi oleh berbagai
macam faktor diantaranya temperatur, sifat alami pelarut, pengaruh ion
lain, pH, hidrolisis,dan pembentukan kompleks. Pengaruh ini dapat kita
jadikan sebagai dasar untuk memahami titrasi argentometri dan gravimetri.
Temperatur
Kelarutan semakin meningkat dengan naiknya suhu, jadi dengan
meningkatnya suhu maka pembentukan endapan akan berkurang disebabkan
banyak endapan yang berada pada larutannya.
Sifat alami pelarut
Garam anorganik mudah larut dalam air dibandingkan dengan pelarut
organik seperti alkohol atau asam asetat. Perbedaan kelarutan suatu zat
dalam pelarut organik dapat dipergunakan untuk memisahkan campuran
antara dua zat. Setiap pelarut memiliki kapasitas yang berbeda dalam
melarutkan suatau zat, begitu juga dengan zat yang berbeda memiliki
kelarutan yang berbeda pada pelarut tertentu.
Pengaruh ion sejenis
Kelarutan endapan akan berkurang jika dilarutkan dalam larutan yang
mengandung ion sejenis dibandingkan dalam air saja. Sebagai contoh
kelarutan Fe(OH)3 akan menjadi kecil jika kita larutkan dalam larutan
NH4OH dibanding dengan kita melarutkannya dalam air, hal ini disebabkan
dalam larutan NH4OH sudah terdapat ion sejenis yaitu OH- sehingga akan
mengurangi konsentrasi Fe(OH)3 yang akan terlarut. Efek ini biasanya
dipakai untuk mencuci endapan dalam metode gravimetri.
Pengaruh pH
Kelarutan endapan garam yang mengandung anion dari asam lemah
dipengaruhi oleh pH, hal ini disebabkan karena penggabungan proton
dengan anion endapannya. Misalnya endapan AgI akan semakin larut dengan
adanya kenaikan pH disebabkan H+ akan bergabung dengan I- membentuk HI.
Pengaruh hidrolisis
Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air maka akan dihasilkan
perubahan konsentrasi H+ dimana hal ini akan menyebabkan kation garam
tersebut mengalami hidrolisis dan hal ini akan meningkatkan kelarutan
garam tersebut.
Pengaruh ion kompleks
Kelarutan garam yang tidak mudah larut akan semakin meningkat dengan
adanya pembentukan kompleks antara ligan dengan kation garam tersebut.
Sebagai contoh AgCl akan naik kelarutannya jika ditambahkan larutan NH3,
hal ini disebabkan karena terbentuknya kompleks Ag(NH3)2Cl.
Metode Fajans
Indicator adsorbsi dapat dipakai untuk titrasi argentometri.
Titrasi argentometri yang menggunakan indicator adsorbsi ini dikenal
dengan sebutan titrasi argentometri metode Fajans. Sebagai contoh
marilah kita gunakan titrasi ion klorida dengan larutan standart Ag+.
Dimana hasil reaksi dari kedua zat tersebut adalah:
Ag+(aq) + Cl-(aq) -> AgCl(s) (endapan putih)
Endapan perak klorida membentuk endapan yang bersifat koloid. Sebelum
titik ekuivalen dicapai maka endapat akan bermuatan negative disebakkan
teradsorbsinya Cl- di seluruh permukaan endapan. Dan terdapat counter
ion bermuatan positif dari Ag+ yang teradsorbsi dengan gaya
elektrostatis pada endapat. Setelah titik ekuivalen dicapai maka tidak
terdapat lagi ion Cl- yang teradsorbsi pada endapan sehingga endapat
sekarang bersifat netral.
Kelebihan ion Ag+ yang diberikan untuk mencapai titik akhir titrasi
menyebabkan ion-ion Ag+ ini teradsorbsi pada endapan sehingga endapan
bermuatan positif dan beberapa ion negative teradsorbsi dengan gaya
elektrostatis sebagai counter ion.
Indikator adsorbsi merupakan pewarna, seperti diklorofluorescein yang
berada dalam keadaan bermuatan negative dalam larutan titrasi akan
teradsorbsi sebagai counter ion pada permukaan endapan yang bermuatan
positif. Dengan terserapnya ini maka warna indicator akan berubah dimana
warna diklorofluorescein menjadi berwarna merah muda. Mekanisme
teradsorbsinya indicator ini ditunjukkan oleh gambar berikut ini:
Metode Mohr
Konsentrasi ion klorida dalam suatu larutan dapat ditentukan dengan cara titrasi dengan larutan standart
perak nitrat. Endapan putih perak klorida akan terbentuk selama proses
titrasi berlangsung dan digunakan indicator larutan kalium kromat encer.
Setelah semua ion klorida mengendap maka kelebihan ion Ag+ pada saat
titik akhir titrasi dicapai akan bereaksi dengan indicator membentuk
endapan coklat kemerahan Ag2CrO4 (lihat gambar). Prosedur ini disebut
sebagai titrasi argentometri dengan metode Mohr.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Ag+(aq) + Cl-(aq) -> AgCl(s) (endapan putih)
Ag+(aq) + CrO42-(aq) -> Ag2CrO4(s) (coklat kemerahan)
Penggunaan metode Mohr sangat terbatas jika dibandingkan dengan metode Volhard dan Fajans dimana dengan metode ini hanya dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi ion Cl- , CN-, dan Br-.
Titrasi argentometri dengan
metode Mohr banyak dipakai untuk menentukan kandungan klorida dalam
berbagai contoh air, misalnya air sungai, air laut, air sumur, air hasil
pengolahan industri sabun, dan sebgainya.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi dengan metode
Mohr adalah titrasi dilakukan dengan kondisi larutan berada pada pH
dengan kisaran 6,5-10 disebabkan
ion kromat adalah basa konjugasi dari asam kromat. Oleh sebab itu jika
pH dibawah 6,5 maka ion kromat akan terprotonasi sehingga asam kromat
akan mendominasi di dalam larutan akibatnya dalam larutan yang bersifat
sagat asam konsentrasi ion kromat akan terlalu kecil untuk memungkinkan
terjadinya endapan Ag2CrO4 sehingga hal ini akan berakibat pada sulitnya
pendeteksian titik akhir titrasi. Pada pH diatas 10 maka
endapan AgOH yang berwarna kecoklatan akan terbentuk sehingga hal ini
akan menghalangi pengamatan titik akhir titrasi. Analit yang bersifat
asam dapat ditambahkan kalsium karbonat agar pH nya berada pada kisaran
pH tersbut atau dapat juga dilakukan dengan menjenuhkan analit dengan
menggunakan padatan natrium hydrogen karbonat.
Disebabkan kelarutan AgCl dan Ag2CrO4 dipengaruhi oleh suhu maka
semua titrasi dilakukan pada temperature yang sama. Pengadukan/
pengocokan selama larutan standar ditambahkan sangat dianjurkan
disebabkan hal ini dapat mempermudah pengamatan pencapaian titik akhir
titrasi dan perak kromat yang terbentuk sebelum titik akhir titrasi dicapai dapat dipecah sehingga terlarut kembali.
Larutan silver nitrat dan endapan perak klorida yang terbentuk harus
dilindungi dari sinar matahari hal ini disebabkan perak klorida dapat
terdekomposisi menurut reaksi berikut:
AgCl(s) -> Ag(s) + ½ Cl2(g)
Konsentrasi ion perak pada saat terjadi titik equivalent titrasi klorida ditentukan dari harga Ksp AgCl yaitu:
[Ag+] = (Ksp AgCl)exp1/2 = 1.35 x 10-5 M
Dan konsentrasi ion kromat yang diperlukan untuk inisiasi terbentukanya endapan perak kromat adalah sebagai berikut:
[CrO42-] = Ksp / [Ag+]exp2 = 0,0066 M
Pada dasarnya untuk mencapai terbentuknya endapan perak kromat maka
konsentrasi ion kromat sejumlah tersebut harus ditambahkan akan tetapi
konsentrasi ion kromat sejumlah tersbut menyebabkan terbentuknya warna
kuning yang sangat intensif pada larutan analit sehingga warna perak
kromat akan susah sekali untuk diamati oleh sebab itu maka konsentrasi
dibawah nilai tersebut sering digunakan.
Konsekuensi dari penurunan nilai konsentrasi ion kromat ini akan
menyebebabkan semakin banyaknya ion Ag+ yang dibutuhkan agar terbentuk
endapan Ag2CrO4 pada saat terjadinya titik akhir titrasi, dan hal lain
yaitu tidak mudahnya pengamatan warna Ag2CrO4 diantara warna putih AgCl
yang begitu banyak akan mendorong semakin besarnya jumlah Ag2CrO4 yang
terbentuk.
Dua hal ini akan mempengaruhi keakuratan dan kepresisian hasil
analisis oleh sebab itu diperlukan blanko untuk mengoreksi hasil
ditrasi. Blanko diperlakukan dengan metode yang sama selama analisis
akan tetapi tanpa kehadiran analit.
Metode Volhard
Konsentrasi ion klorida, iodide, bromide dan yang lainnya dapat ditentukan dengan menggunakan larutan standar
perak nitrat. Larutan perak nitrat ditambahkan secara berlebih kepada
larutan analit dan kemudian kelebihan konsentrasi larutan Ag+ dititrasi
dengan menggunakan larutan standar tiosianida (SCN-) dengan menggunakan
indicator ion Fe3+. Ion besi(III) ini akan bereaksi dengan ion tiosianat
membentuk kompleks yang berwarna merah.
Reaksi yang terjadi dalam titrasi argentometri dengan metode volhard adalah sebagai berikut:
Ag+(aq) + Cl-(aq) -> AgCl(s) (endapan putih)
Ag+(aq) + SCN-(aq) -> AgSCN(s) (endapan putih)
Fe3+(aq) + SCN(aq) -> Fe(SCN)2+ (kompleks berwarna merah)
Titrasi
dengan cara ini disebut sebagai titrasi balik atau titrasi kembali. Mol
analit diperoleh dari pegurangan mol perak mula-mula yang ditambahkan
dengan mol larutan standar tiosianat. Karena perbandingan mol dari
reaksi adalah 1:1 semua maka semua hasil diatas dapat langsung
dikurangi.
Mol analit = mol Ag+ total – mol SCN
Aplikasi dari argentometri dengan
metode Volhard ini adalah penentuan konsentrasi ion halide. Kondisi
titrasi denga metode Volhard harus dijaga dalam kondisi asam disebabkan
jika laruran analit bersifat basa maka akan terbentuk endapat Fe(OH)3.
Jika kondisi analit adalah basa atau netral maka sebaiknya titrasi
dilakukan dengan metode Mohr atau fajans.
Metode Titrasi Argentometri
Pada umumnya titrasi argentometri dapat dibedakan atas tiga metode
berdasarkan indicator yang dipakai dalam titrasi tersebut, yaitu:
Indikator kalium kromat K2CrO4
Titrasi argentometri dengan menggunakan indicator ini biasa disebut sebagai argentoetri dengan metode Mohr.
Ini merupakan titrasi langsung titrant dengan menggunakan larutan
standar AgNO3. Titik akhir titrasi diamati dengan terbentuknya endapan
Ag2CrO4 yang brwarna kecoklatan.
Indikator Fe3+
Titrasi argentometri dengan indicator ini disebut sebagai titrasi argentometri dengan metode volhard.
Titrasi ini merupakan titrasi tidak langsung dimana larutan standar
AgNO3 ditambahkan secara berlebih dan kelebihan ini dititrasi dengan
larutan standart SCN-.
Titrasi argentometri dengan indicator adsorbsi disebut sebagai titrasi argentometri dengan menggunakan metode Fajans. Indikator yang dipakai adalah indicator adsorbsi Dimana indicator ini akan berubah warnanya jika teradsorbsi pada permukaan endapan.
Selain menggunakan teknik diatas maka titrasi argentometri juga dapat
dilakukan dengan menggunakan indicator yang berupa indicator electrode.
Plot antara Esel dengan jumlah titran akan dapat diperoleh kurva titrasi dengan grafik ini maka kita nantinya dapat menentukan titik akhir titrasi.
Indikator Adsorbsi Pada Titrasi Argentometri
Pada titrasi argentometri dengan metode Fajans,
Jika AgNO3 ditambahkan pada larutan NaCl yang mengandung flourescein
maka titik akhir titrasi akan diamati dengan perubahan warna dari kuning
cerah ke merah muda. Warna endapan yang terlihat akan tampak berwarna
sedangkan larutannya tampak tidak berwarna hal ini disebabkan adanya
indikator adsorbsi yang teradsorb pada permukaan endapan AgCl. Warna
dari endapan akan termodifikasi saat indikator teradsorbsi pada
permukaan endapan. Reaksi adsorbsi ini dapat dilihat dengan contoh
indikator yang bermuatan negatif seperti flouroscein.
Misalnya flouroscein dilambangkan sebagai Fl-. Pada saat larutan
berada pada kelebihan ion Cl- yaitu saat titrasi belum mencapai titik
ekuivalen maka indikator FL- tidak teradsorbsi pada permukaan endapan,
hal ini disebabkan permukaan endapan masih dikelilingi oleh ion Cl-
sehingga antara endapan dan FL- saling tolak-menolak
(AgCl)Cl- + FL- -> tidak ada adsorbsi
akan tetapi begitu terjadi titik ekuivalen maka dengan penambahan
sejumlah kecil ion Ag+ untuk mendapatkan titik akhir titrasi maka
sekarang dalam larutan terdapat kelebihan jumlah ion Ag+ sehingga pada
permukaan endapan sekarang terdapat ion Ag+ dengan demikian FL- akan
teradsorbsi melalui gaya elektrostatis pada permukaan endapan sehingga
terjadilah perubahan warna indikator.
(AgCl)Ag+ + FL- -> (AgCl)(AgFL) ada reaksi dan indikator teradsorbsi
Semua indikator adsorbsi bersifat ionik sehingga dapat teradsorbsi
pada permukaan endapan. Indikator adsorbsi yang dipakai untuk titrasi
sulfat dengan ion barium dalam pelarut aseton biasa dipergunakan thorin
atau alizarin.
Indikator adsorbsi memiliki keunggulan memiliki eror dalam penentuan
titik akhir titrasi yang kecil, dan perubahan warna pada saat
teradsorbsi umumnya dapat terlihat dengan jelas. Indikator adsorbsi baik
dipergunakan untuk titrasi penendapan dimana endapan yang dihasilkan
memiliki luas permukaan yang besar dengan demikian indikator dapat
teradsorbsi dengan baik.
Contoh indicator adsorbsi
Indikator kalium kromat K2CrO4
Titrasi argentometri dengan menggunakan indicator ini biasa disebut sebagai argentoetri dengan metode Mohr.
Ini merupakan titrasi langsung titrant dengan menggunakan larutan
standar AgNO3. Titik akhir titrasi diamati dengan terbentuknya endapan
Ag2CrO4 yang brwarna kecoklatan.
Indikator Fe3+
Titrasi argentometri dengan indicator ini disebut sebagai titrasi argentometri dengan metode volhard.
Titrasi ini merupakan titrasi tidak langsung dimana larutan standar
AgNO3 ditambahkan secara berlebih dan kelebihan ini dititrasi dengan
larutan standart SCN-.
Titrasi argentometri dengan indicator adsorbsi disebut sebagai titrasi argentometri dengan menggunakan metode Fajans. Indikator yang dipakai adalah indicator adsorbsi Dimana indicator ini akan berubah warnanya jika teradsorbsi pada permukaan endapan.
Selain menggunakan teknik diatas maka titrasi argentometri juga dapat
dilakukan dengan menggunakan indicator yang berupa indicator electrode.
Plot antara Esel dengan jumlah titran akan dapat diperoleh kurva titrasi dengan grafik ini maka kita nantinya dapat menentukan titik akhir titrasi.
Kurva Titrasi Argentometri
Kurva titrasi argentometri dibuat
dengan mengeplotkan antara perubahan konsentrasi analit pada sumbu
ordinat dan volume titran pada sumbu aksis. Pada umumnya konsentrasi
analit dinyatakan dalam fungsi (p) yaitu pX = -log[X] sedangkan volume
titran dalam satuan milliliter. Kurva titrasi dapat dibagi menjadi 3
bagian wilayah yaitu sebelum titik ekuivalen, pada saat titik ekuivalen dan setelah titik ekuivalen. Untuk menggambar kurva titrasi argentometri maka perhatikan contoh berikut ini:
50 mL larutan NaCl 0,1 M dititrasi dengan 0,1 M larutan perak nitrat AgNO3, maka hitunglah konsentrasi Cl- pada saat awal dan pada saat penambahan perak nitrat sebanyak 10 mL, 49,9 mL, 50 mL, dan 60 mL dan diketahui KsP AgCl 1,56.10-10
Pada saat awal titrasi belum terdapat AgNO3 yang ditambahkan sehingga konsentrasi ion klorida adalah sebagai berikut:
[Cl-] = 0,1 M
pCl = -log [Cl-]
= -log 0,1
= 1
Reaksi yang terjadi adalah:
Ag+(aq) + Cl-(aq) -> AgCl(s)
dari reaksi diatas diketahui bahwa perbandingan mol antara Ag+ dan
Cl- adalah 1:1 sehingga perbandingan ini dapat dipakai untuk menentukan
perubahan konsentrasi ion klorida.
Saat penambahan 10 mL AgNO3 0,1 M
[Cl-]
= (50×0,1)-(10×0,1) / (50+10)
= 0,067 M
pCl
= -log [Cl-]
= -log 0,067
= 1,17
Saat penambahan 49,9 mL AgNO3 0,1 M
[Cl-]
= (50×0,1)-(49,9×0,1)/(50+49,9)
= 1.10-4
pCl
= -log [Cl-]
= -log 1.10-4
= 4
Saat penambahan 50 mL AgNO3 0,1 M
pada saat penabahan sejumlah ini maka titrasi akan berada pada titik
ekuivalen dimana AgNO3 dan NaCl habis bereaksi membentuk AgCl. Pada saat
ini maka tidak ada ion Ag+ maupun ion Cl- dalam larutan sehingga
konsentrasi Cl ditentukan dengan menggunakan nilai Ksp.
AgCl(s) <-> Ag+(aq) + Cl-(aq)
s s s
Ksp=[Ag+][Cl-]
Ksp = sxs
Ksp = s2
s = Ksp1/2
s = (1,56.10-10)1/2
s = 1,25.10-5
pCl
= -log[Cl-]
= -log 1,25.10-5
= 4,9
Saat penambahan 60 mL AgNO3 0,1 M
pada saat ini maka terdapat kelebihan Ag+ sebanyak 10 mL sehingga sekarang kita menghitung jumlah konsentrasi Ag+ yang berlebih
[Ag+]
= 10x 0,1/(50+60)
= 9,1.10-3
pAg
= -log[Ag+]
= -log 9,1.10-3
= 2,04
karena pCl + pAg adalah 10 (dari harga Ksp) maka pCl = 10-2,04 = 7,96
Dan kurva titrasinya adalah sebagai berikut:
Pengaruh kurva nilai Ksp terhadap kurva titrasi dapat dilihat
dari gambar dibawah ini. Gambar dibawah ini menunjukkan kurva titrasi 25
mL larutan MX (dengan X adalah Cl-, I-, dan Br-) dengan 0,05
M AgNO3. Dapat dilihat bahwa semakin kecil harga Ksp untuk AgI maka
kurvanya akan semakin curam sedangkan semakin besar harga Ksp untuk AgCl
maka kurvanya semakin landai. Satu hal lagi manfaat dari kurva titrasi
adalah selain dapat dipakai untuk mencari titik ekuivalen maka kurva
titrasi juga dapat dipakai untuk mencari konsentrasi kation dan anion
disetiap titik dimana titrasi berlangsung.
Senin, 12 Desember 2011
TITRASI ASAM BASA
Materi
1. Definisi titrasi asam-basa
2. Jenis-jenis titrasi asam-basa
3. Cara melakukan titrasi asam-basa
4. Indikator asam-basa
5. Materi pengayaan
2. Jenis-jenis titrasi asam-basa
3. Cara melakukan titrasi asam-basa
4. Indikator asam-basa
5. Materi pengayaan
Definisi
-
Titrasi adalah pengukuran suatu larutan dari
suatu reaktan yang dibutuhkan untuk bereaksi sempurna dengan sejumlah reaktan
tertentu lainnya.
-
Titrasi asam basa adalah reaksi penetralan.
-
Jika larutan bakunya asam disebut asidimetri dan
jika larutan bakunya basa disebut alkalimetri.
Jenis-Jenis Titrasi Asam
Basa
Titrasi asam basa terbagi menjadi 5
jenis yaitu :
1. Asam
kuat - Basa kuat
2. Asam
kuat - Basa lemah
3. Asam
lemah - Basa kuat
4. Asam
kuat - Garam dari asam lemah
5. Basa
kuat - Garam dari basa lemah
1. Titrasi Asam Kuat - Basa
Kuat
Contoh
:
-
Asam kuat : HCl
-
Basa kuat : NaOH
Persamaan
Reaksi :
HCl + NaOH → NaCl + H2O
Reaksi
ionnya :
H+ + OH-
→ H2O
Kurva Titrasi Asam Kuat Basa
Kuat
2. Titrasi Asam Kuat - Basa
Lemah
Contoh
:
-
Asam kuat : HCl
-
Basa lemah : NH4OH
Persamaan
Reaksi :
HCl + NH4OH → NH4Cl + H2O
Reaksi
ionnya :
H+ + NH4OH → H2O + NH4+
Kurva Titrasi Asam kuat – Basa
Lemah
3. Titrasi Asam Lemah -
Basa Kuat
Contoh
:
-
Asam lemah : CH3COOH
-
Basa kuat : NaOH
Persamaan
Reaksi :
CH3COOH + NaOH → NaCH3COO + H2O
Reaksi
ionnya :
H+ + OH- → H2O
Kurva Titrasi Asam Lemah – Basa
Kuat
4. Titrasi Asam Kuat -
Garam dari Asam Lemah
Contoh
:
-
Asam kuat : HCl
-
Garam dari asam lemah : NH4BO2
Persamaan
Reaksi :
HCl + NH4BO2 → HBO2 + NH4Cl
Reaksi
ionnya :
H+ + BO2- → HBO2
5. Titrasi Basa Kuat -
Garam dari Basa Lemah
Contoh
:
-
Basa kuat : NaOH
-
Garam dari basa lemah : CH3COONH4
Persamaan
Reaksi :
NaOH + CH3COONH4 → CH3COONa + NH4OH
Reaksi
ionnya :
OH- + NH4- → NH4OH
Cara Melakukan Titrasi Asam
Basa
1. Zat
penitrasi (titran) yang merupakan larutan baku
dimasukkan ke dalam buret yang telah ditera
2. Zat
yang dititrasi (titrat) ditempatkan pada wadah (gelas kimia atau
erlenmeyer).Ditempatkan tepat dibawah buret berisi titran
3. Tambahkan
indikator yang sesuai pada titrat, misalnya, indikator fenoftalien
4. Rangkai
alat titrasi dengan baik. Buret harus berdiri tegak, wadah titrat tepat dibawah
ujung buret, dan tempatkan sehelai kertas putih atau tissu putih di bawah wadah
titrat
5. Atur
titran yang keluar dari buret (titran dikeluarkan sedikit demi sedikit) sampai
larutan di dalam gelas kimia menunjukkan perubahan warna dan diperoleh titik
akhir titrasi. Hentikan titrasi !
Set Alat Titrasi
Indikator Asam Basa
1. Indikator
asam basa adalah asam lemah atau basa lemah (senyawa organik) yang dalam
larutannya warna molekul-molekulnya berbeda dengan warna ion-ionnya
2. Zat
indikator dapat berupa asam atau basa yang larut, stabil, dan menunjukkan
perubahan warna yang kuat.
3. Indikator
asam-basa terletak pada titik ekivalen dan ukuran dari pH
Beberapa indikator asam basa
|
Perubahan warna
|
Pelarut
|
|
Asam
|
Basa
|
||
Thimol biru
|
Merah
|
Kuning
|
Air
|
Metil kuning
|
Merah
|
Kuning
|
Etanol 90%
|
Metil jingga
|
Merah
|
Kuning-jingga
|
Air
|
Metil merah
|
Merah
|
Kuning
|
Air
|
Bromtimol biru
|
Kuning
|
Biru
|
Air
|
Fenolftalein
|
Tak berwarna
|
Merah-ungu
|
Etanol 70%
|
thimolftalein
|
Tak berwarna
|
biru
|
Etanol 90%
|
Materi Pengayaan
Analisis volumetri atau disebut juga titrasi,berdasarkan jenis reaksinya digolongkan menjadi :
Analisis volumetri atau disebut juga titrasi,berdasarkan jenis reaksinya digolongkan menjadi :
1. Asidimetri
/ Alkalimetri : analisis yang didasarkan pada reaksi netralisasi
2. Iodometri
/ Permanganometri : analisis yang didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi
3. Argentometri
: analisis yang didasarkan pada penbentukanendapan dari ion Ag+
STOIKIOMETRI
a. Tahap Awal Stoikiometri
Di awal kimia, aspek kuantitatif perubahan kimia,
yakni stoikiometri reaksi kimia, tidak mendapat banyak perhatian. Bahkan
saat perhatian telah diberikan, teknik dan alat percobaan tidak menghasilkan
hasil yang benar.
Salah satu contoh melibatkan teori flogiston.
Flogistonis mencoba menjelaskan fenomena pembakaran dengan istilah “zat dapat
terbakar”. Menurut para flogitonis, pembakaran adalah pelepasan zat dapat
etrbakar (dari zat yang terbakar). Zat ini yang kemudian disebut ”flogiston”.
Berdasarkan teori ini, mereka mendefinisikan pembakaran sebagai pelepasan
flogiston dari zat terbakar. Perubahan massa
kayu bila terbakar cocok dengan baik dengan teori ini. Namun, perubahan massa logam ketika
dikalsinasi tidak cocok dengan teori ini. Walaupun demikian flogistonis
menerima bahwa kedua proses tersebut pada dasarnya identik. Peningkatan massa logam terkalsinasi
adalah merupakan fakta. Flogistonis berusaha menjelaskan anomali ini dengan
menyatakan bahwa flogiston bermassa negatif.
Filsuf dari Flanders Jan Baptista van Helmont
(1579-1644) melakukan percobaan “willow” yang terkenal. Ia menumbuhkan bibit
willow setelah mengukur massa
pot bunga dan tanahnya. Karena tidak ada perubahan massa
pot bunga dan tanah saat benihnya tumbuh, ia menganggap bahwa massa yang didapatkan hanya karena air yang
masuk ke bijih. Ia menyimpulkan bahwa “akar semua materi adalah air”.
Berdasarkan pandangan saat ini, hipotesis dan percobaannya jauh dari sempurna,
tetapi teorinya adalah contoh yang baik dari sikap aspek kimia kuantitatif yang
sedang tumbuh. Helmont mengenali pentingnya stoikiometri, dan jelas mendahului
zamannya.
Di akhir abad 18, kimiawan Jerman Jeremias
Benjamin Richter (1762-1807) menemukan konsep ekuivalen (dalam istilah kimia
modern ekuivalen kimia) dengan pengamatan teliti reaksi asam/basa, yakni
hubungan kuantitatif antara asam dan basa dalam reaksi netralisasi. Ekuivalen
Richter, atau yang sekarang disebut ekuivalen kimia, mengindikasikan sejumlah
tertentu materi dalam reaksi. Satu ekuivalen dalam netralisasi berkaitan dengan
hubungan antara sejumlah asam dan sejumlah basa untuk mentralkannya.
Pengetahuan yang tepat tentang ekuivalen sangat penting untuk menghasilkan
sabun dan serbuk mesiu yang baik. Jadi, pengetahuan seperti ini sangat penting
secara praktis.
Pada saat yang sama Lavoisier menetapkan hukum
kekekalan massa,
dan memberikan dasar konsep ekuivalen dengan percobaannya yang akurat dan
kreatif. Jadi, stoikiometri yang menangani aspek kuantitatif reaksi kimia
menjadi metodologi dasar kimia. Semua hukum fundamental kimia, dari hukum kekekalan
massa, hukum
perbandingan tetap sampai hukum reaksi gas semua didasarkan stoikiometri.
Hukum-hukum fundamental ini merupakan dasar teori atom, dan secara konsisten
dijelaskan dengan teori atom. Namun, menarik untuk dicatat bahwa, konsep
ekuivalen digunakan sebelum teori atom dikenalkan.
Dalton mengenali
bahwa penting untuk menentukan massa
setiap atom karena massanya bervariasi untuk setiap jenis atom. Atom sangat
kecil sehingga tidak mungkin menentukan massa
satu atom. Maka ia memfokuskan pada nilai relatif massa
dan membuat tabel massa
atom (gambar 1.3) untuk pertamakalinya dalam sejarah manusia. Dalam tabelnya, massa unsur teringan,
hidrogen ditetapkannya satu sebagai standar (H = 1). Massa atom adalah nilai relatif, artinya
suatu rasio tanpa dimensi. Walaupun beberapa massa atomnya berbeda dengan nilai modern,
sebagian besar nilai-nilai yang diusulkannya dalam rentang kecocokan dengan
nilai saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa ide dan percobaannya benar.
Kemudian kimiawan Swedia Jons Jakob Baron
Berzelius (1779-1848) menentukan massa
atom dengan oksigen sebagai standar (O = 100). Karena Berzelius mendapatkan
nilai ini berdasarkan analisis oksida, ia mempunyai alasan yang jelas untuk
memilih oksigen sebagai standar. Namun, standar hidrogen jelas lebih unggul
dalam hal kesederhanaannya. Kini, setelah banyak diskusi dan modifikasi,
standar karbon digunakan. Dalam metoda ini, massa karbon 12C dengan 6 proton
dan 6 neutron didefinisikan sebagai 12,0000. Massa
atom dari suatu atom adalah massa
relatif pada standar ini. Walaupun karbon telah dinyatakan sebagai standar,
sebenarnya cara ini dapat dianggap sebagai standar hidrogen yang dimodifikasi.
Soal Latihan 1.1 Perubahan massa atom disebabkan
perubahan standar. Hitung massa
atom hidrogen dan karbon menurut standar Berzelius (O = 100). Jawablah dengan
menggunakan satu tempat desimal.
Jawab.Massa atom hidrogen = 1 x (100/16) = 6,25 (6,3), massa atom karbon = 12 x (100/16)=75,0
Massa atom hampir
semua unsur sangat dekat dengan bilangan bulat, yakni kelipatan bulat massa atom hidrogen. Hal
ini merupakan kosekuensi alami fakta bahwa massa
atom hidrogen sama dengan massa proton, yang
selanjutnya hampir sama dengan massa neutron,
dan massa
elektron sangat kecil hingga dapat diabaikan. Namun, sebagian besar unsur yang
ada secara alami adalah campuran beberapa isotop, dan massa atom bergantung pada distribusi isotop.
Misalnya, massa
atom hidrogen dan oksigen adalah 1,00704 dan 15,9994. Massa atom oksigen sangat dekat dengan nilai
16 agak sedikit lebih kecil.
Jawab:
0,7870 x 24 + 0,1013 x 25 +0,1117 x 26 = 18,89+2,533+2,904 = 24,327(amu; lihat bab 1.3(e))
Massa atom Mg = 18,89 + 2,533 + 2,904 =24.327 (amu).
Perbedaan kecil dari massa atom yang ditemukan di tabel periodik
(24.305) hasil dari perbedaan cara dalam membulatkan angkanya.
Setiap senyawa didefinisikan oelh rumus kimia
yang mengindikasikan jenis dan jumlah atom yang menyususn senyawa tersebut. Massa rumus (atau massa
rumus kimia) didefinisikan sebagai jumlah massa
atom berdasarkan jenis dan jumlah atom yang terdefinisi dalam rumus kimianya.
Rumus kimia molekul disebut rumus molekul, dan massa
rumus kimianya disebut dengan massa molekul.5
Misalkan, rumus molekul karbon dioksida adalah CO2, dan massa molekularnya adalah
12 +(2x 6) = 44. Seperti pada massa atom, baik massa rumus dan massa
molekul tidak harus bilangan bulat. Misalnya, massa molekul hidrogen khlorida HCl adalah
36,5. Bahkan bila jenis dan jumlah atom yang menyusun molekul identik, dua
molekul mungkin memiliki massa
molekular yang berbeda bila ada isostop berbeda yang terlibat.
Tidak mungkin mendefinisikan molekul untuk
senyawa seperti natrium khlorida. Massa rumus
untuk NaCl digunakan sebagai ganti massa
molekular.
Hitung massa molekular air H2O dan air berat D2O (2H2O) dalam bilangan bulat.
Jawab
Massa molekular H2O = 1 x 2 + 16 = 18, massa molekular D2O = (2 x 2) + 16 = 20
Perbedaan massa
molekular H2O dan D2O sangat substansial, dan perbedaan
ini sifat fisika dan kimia anatara kedua jenis senyawa ini tidak dapat
diabaikan. H2O lebih mudah dielektrolisis daripada D2O.
Jadi, sisa air setelah elektrolisis cenderung mengandung lebih banyak D2O
daripada dalam air alami.
Metoda kuantitatif yang paling cocok untuk
mengungkapkan jumlah materi adalah jumlah partikel seperti atom, molekul yang
menyusun materi yang sedang dibahas. Namun, untuk menghitung partikel atom atau
molekul yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat sangat sukar. Alih-alih
menghitung jumlah partikel secara langsung jumlah partikel, kita dapat
menggunakan massa
sejumlah tertentu partikel. Kemudian, bagaimana sejumlah tertentu bilangan
dipilih? Untuk
menyingkat cerita, jumlah partikel dalam 22,4 L
gas pada STP (0℃, 1atm) dipilih sebagai jumlah
standar. Bilangan ini disebut dengan bilangan Avogadro. Nama bilangan Loschmidt
juga diusulkan untuk menghormati kimiawan Austria Joseph Loschmidt (1821-1895)
yang pertama kali dengan percobaan (1865).
Sejak 1962, menurut SI (Systeme Internationale)
diputuskan bahwam dalam dunia kimia, mol digunakan sebagai satuan jumlah
materi. Bilangan Avogadro didefinisikan jumlah atom karbon dalam 12 g 126C
dan dinamakan ulang konstanta Avogadro.
Ada beberapa
definisi “mol”:(i) Jumlah materi yang mengandung sejumlah partikel yang terkandung dalam 12 g 12C. (ii) satu mol materi yang mengandung sejumlah konstanta Avogadro partikel.
(iii) Sejumlah materi yang mengandung 6,02 x 1023 partikel dalam satu mol.
e. Satuan Massa Atom (sma)
Karena standar massa
atom dalam sistem Dalton adalah massa
hidrogen, standar massa dalam SI tepat 1/12 massa 12C.
Nilai ini disebut dengan satuan massa atom (sma)
dan sama dengan 1,6605402 x 10–27 kg dan D (Dalton) digunakan sebagai simbolnya. Massa atom didefinisikan
sebagai rasio rata-rata sma unsur dengan distribusi isotop alaminya dengan 1/12
sma 12C.
Latihan
1.1 Isotop. Karbon alami adalah campuran
dua isotop, 98,90(3)% 12C dan 1,10(3)% 13C. Hitung massa atom karbon.
1.1 Jawab. Massa
atom karbon = 12 x 0,9890 + 13 x 0,0110 = 12,01(1)
1.2 Konstanta Avogadro. Intan adalah
karbon murni. Hitung jumlah atom karbon dalam 1 karat (0,2 g) intan.
1.2 Jawab. Jumlah atom karbon = [0,2 (g)/12,01 (g mol-1)]
x 6,022 x 1023(mol-1) = 1,00 x 1022
1.3 Hukum perbandingan berganda. Komposisi
tiga oksida nitrogen A, B dan C diuji. Tunjukkan bahwa hasilnya konsisten
dengan hukum perbandingan berganda: massa
nitrogen yang bereaksi dengan 1 g oksigen dalam tiap oksida: Oksida A: 1,750 g,
oksida B: 0,8750 g, oksida C: 0,4375 g.
1.3 Jawab. Bila hukum perbandingan berganda berlaku, rasio massa nitrogen yang
terikat pada 1 g oksigen harus merupakan bilangan bulat.A/B = 1,750/0,875 = 2/1
B/C = 0,875/0,4375 = 2/1
A/C = 1,750/0,4375 = 4/1
Hasilnya cocok dengan hukum perbandingan berganda.
1.4 Massa
atom. Tembaga yang ada di alam dianalisis dengan spektrometer massa. Hasilnya: 63Cu
69,09%, 65Cu 30,91%. Hitung massa atom Cu. Massa
63Cu dan 65Cu adalah 62,93 dan 64,93 sma.
1.4 Jawab: Massa
atom Cu=62,93x (69,09/100) + 64,93x (30,91/100) = 63,55 (sma)
1.5 Mol. Bila kumbang menyengat korbannya,
kumbang akan menyalurkan sekitar 1 mg (1x 10-6 g) isopentil asetat C7H14O2.
Senyawa ini adalah komponen fragrant pisang, dan berperan sebagai materi
pentransfer informasi untuk memanggil kumbang lain. Berapa banyak molekul dalam
1 mg isopentil asetat?
1.5 Jawab. Massa molekular isopentil asetat adalah M = 7
x 12,01 + 14 x 1,008 + 2 x 16,00 = 130.18 (g mol-1). Jumlah mol: 1,0
x 10-6(g)/130,18(g mol-1) = 7,68 x 10-9(mol)
Jumlah molekul 1 mg isopentil asetat: 7,68 x 10-9(mol) x 6,022 x 1023
(mol-1) = 4,6 x1015
1.6 Massa
molekul hidrogen. Massa
atom hidrogen adalah 1,008. Hitung massa
molekul hidrogen.
1.6 Jawab. Massa molar hidrogen adalah 2,016 x 10-3
kg mol-1. Massa
satu molekul hidrogen = [2,016 x 10-3 (kg mol-1)]/[6,022
x 1023(mol-1) = 3,35 x 10-27(kg).
Langganan:
Postingan (Atom)