Metode Acuan : SNI 06-6989.8-2009 Cara Uji Timbal (Pb) dengan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)-Nyala
1. Prinsip
Analit logam timbal dalam nyala
udara-asetilen diubah menjadi bentuk atomnya, menyerap energi radiasi
elektromagnetik yang berasal dari
lampu katoda dan
besarnya serapan berbanding lurus
dengan kadar analit.
2. Bahan
·
air
bebas mineral;
·
asam
nitrat (HNO3) pekat p.a;
·
logam
timbal (Pb) dengan kemurnian minimum 99,5%;
·
gas
asetilen (C2H2) HP dengan tekanan minimum 100 psi;
·
larutan
pengencer HNO3 0,05 M;
Larutkan
3,5 mL HNO3 pekat ke dalam 1000 mL air bebas mineral dalam gelas piala.
·
larutan
pencuci HNO3 5% (v/v).
Tambahkan
50 mL asam nitrat pekat ke dalam 800 mL air bebas mineral dalam gelas piala
1000 mL, lalu tambahkan air bebas mineral hingga 1000 mL dan homogenkan.
·
Larutan
kalsium
Larutkan
630 mg kalsium karbonat (CaCO3) dalam 50 mL HCl (1+5). Bila perlu larutan
dididihkan untuk menyempurnakan larutan. Dinginkan dan encerkan dengan air
bebas mineral hingga 1 liter.
·
udara
tekan
3. Peralatan
·
Spektrofotometer
Serapan Atom (SSA)-nyala;
·
lampu
katoda berongga (Hollow Cathode Lamp, HCL) timbal;
·
gelas
piala 100 mL dan 250 mL;
·
pipet
volumetrik pipet volumetrik 10,0 mL dan 50,0 mL;
·
labu
ukur 50,0 mL ;100,0 mL dan 1000,0 mL;
·
Erlenmeyer
100 mL;
·
corong
gelas;
·
kaca
arloji;
·
pemanas
listrik;
·
seperangkat
alat saring vakum;
·
saringan
membran dengan ukuran pori 0,45 µm;
·
timbangan
analitik dengan ketelitian 0,0001 g; dan
·
labu
semprot.
4. Pengawetan Contoh Uji
Bila contoh uji tidak dapat segera diuji, maka contoh uji diawetkan
sesuai petunjuk di bawah ini:
Wadah : Botol plastik (polyethylene
) dan botol gelas
Pengawet : a) Untuk logam terlarut, saring dengan saringan membran berpori 0,45 μm dan diasamkan dengan
HNO3 hingga
pH < 2.
b) Untuk logam total, asamkan dengan HNO3 hingga pH < 2
Lama Penyimpanan : 6 bulan
Kondisi Penyimpanan : Suhu ruang
5. Persiapan Pengujian
A. Persiapan contoh
uji timbal terlarut
Siapkan contoh uji yang telah disaring dengan saringan
membran berpori 0,45 μm dan diawetkan. Contoh uji siap diukur.
B. Persiapan contoh
uji timbal total
Siapkan contoh uji untuk pengujian timbal total, dengan
tahapan sebagai
berikut:
a) homogenkan contoh uji, pipet 50,0
mL contoh uji dan masukkan
ke dalam gelas piala 100 mL atau Erlenmeyer 100
mL;
b) tambahkan 5 mL HNO3 pekat, bila menggunakan gelas piala, tutup dengan kaca arloji
dan bila dengan Erlenmeyer gunakan corong sebagai penutup;
c) panaskan perlahan-lahan sampai sisa volumenya 15 mL - 20 mL;
d) jika destruksi belum sempurna (tidak jernih),
maka tambahkan lagi 5 mL HNO3 pekat, kemudian tutup gelas piala dengan kaca
arloji atau tutup Erlenmeyer dengan corong dan panaskan lagi (tidak mendidih). Lakukan proses ini secara berulang sampai
semua logam larut, yang terlihat dari warna endapan dalam contoh uji menjadi agak putih atau contoh uji menjadi
jernih;
e) bilas kaca arloji dan masukkan air bilasannya ke dalam gelas piala;
f) pindahkan contoh uji ke dalam labu ukur 50,0 mL (saring
bila perlu) dan tambahkan
air bebas mineral sampai
tepat tanda tera dan dihomogenkan;
g) contoh uji siap diukur absorbansinya.
C. Pembuatan larutan
baku logam timbal 100 mg Pb/L
a) timbang ± 0,16 g Pb(NO3)2, masukkan
ke dalam labu ukur 1000,0 mL. Tambahkan sedikit HNO3 1:1
(≈ 100 mg Pb/L);
b) tambahkan 10 mL HNO3 pekat dan air bebas mineral hingga tepat tanda tera kemudian homogenkan;
c) hitung kembali
kadar sesungguhnya berdasarkan hasil penimbangan.
CATATAN Larutan ini dapat dibuat dari larutan standar 1000 mg
Pb/L siap pakai.
D. Pembuatan larutan
baku logam timbal 10 mg Pb/L
a) pipet 10,0 mL larutan
induk 100 mg Pb/L,
masukkan ke dalam labu ukur 100,0 mL;
b) tepatkan dengan larutan pengencer sampai tanda tera dan homogenkan.
E. Pembuatan larutan
kerja logam timbal (Pb)
Buat deret larutan kerja dengan 1 (satu) blanko
dan minimal 3 (tiga) kadar yang berbeda
secara proporsional dan berada
pada rentang pengukuran.
F. Pembuatan kurva kalibrasi dan pengukuran contoh
uji
1. Pembuatan kurva kalibrasi
Kurva kalibrasi
dibuat dengan tahapan sebagai berikut:
a) operasikan
alat dan optimasikan sesuai dengan petunjuk
penggunaan alat untuk pengukuran timbal;
b) aspirasikan larutan
blanko ke dalam SSA-nyala kemudian
atur serapan hingga
nol.
c) aspirasikan larutan
kerja satu persatu
ke dalam SSA-nyala, lalu ukur serapannya pada panjang gelombang 283,3
nm atau 217,0 nm, kemudian
catat.
d) lakukan pembilasan pada selang aspirator dengan larutan
pengencer.
e) buat kurva kalibrasi dari data pada butir 3.6.1.c) di atas, dan tentukan
persamaan garis lurusnya;
f) jika koefisien
korelasi regresi
linier (r) < dari
0,995, periksa kondisi
alat dan ulangi langkah pada butir 3.6.1 b) sampai dengan
c) hingga diperoleh nilai koefisien r ≥ 0,995.
2. Pengukuran contoh
uji
Uji kadar
timbal dengan tahapan sebagai berikut:
a) aspirasikan
contoh
uji
ke
dalam
SSA-nyala
lalu
ukur
serapannya
pada
panjang
gelombang 283,3 nm atau 217,0 nm. Bila diperlukan, lakukan pengenceran.
b) catat hasil pengukuran.
6. Perhitungan
A. Konsentrasi Logam Timbal (Pb)
Keterangan:
·
C = konsentrasi yang diperoleh dari hasil
pengukuran (mg/L)
·
fp = faktor pengenceran
B. Persen Temu Balik (% Recovery)
Keterangan:
·
A = kadar contoh uji yang di-spike
·
B = kadar contoh uji yang tidak di-spike
·
C = kadar standar yang ditambahkan (spiked value)
7. Persiapan Verifikasi Metode
A. Persiapan Alat
·
Pastikan
SSA telah dikalibrasi sesuai petunjuk pabrikan.
·
Gunakan
lampu hollow katoda Pb yang masih layak pakai.
·
Pastikan
panjang gelombang diatur pada 283,3
nm.
·
Pastikan
sistem gas asetilen berfungsi dengan baik.
·
Pipet
volumetrik, labu ukur, dan neraca analitik telah dikalibrasi.
B. Persiapan Bahan
·
Air
suling.
·
Asam
nitrat (HNO₃).
·
Larutan
standar Pb.
·
Larutan
kerja Pb.
·
Contoh
uji homogen.
8. Pelaksanaan Verifikasi Metode
Verifikasi dilakukan menggunakan matriks
air atau air limbah yang rutin diuji di laboratorium.
Disarankan:
·
Melakukan
minimal 7 kali ulangan
(repeatability) pada contoh homogen.
·
Membuat
kurva kalibrasi sebelum analisis contoh.
·
Menjalankan
blanko reagen.
·
Melakukan
uji spike recovery
atau menggunakan CRM apabila tersedia.
Data
yang dicatat meliputi:
·
Absorbansi
larutan standar.
·
Persamaan
regresi dan koefisien determinasi (R²).
·
Absorbansi
contoh.
·
Konsentrasi
Pb (mg/L).
·
Nilai recovery (%).
· Hasil ulangan.
9. Parameter yang Dievaluasi
|
Parameter |
Cara Evaluasi |
|
Presisi (Repeatability) |
Melakukan minimal 7 kali ulangan pada contoh homogen,
kemudian menghitung rata-rata, SD, dan %RSD. |
|
Akurasi/Trueness |
Menggunakan CRM atau uji spike recovery. |
|
Bias |
Membandingkan hasil terhadap nilai acuan atau CRM. |
|
Linearitas |
Dievaluasi dari kurva kalibrasi menggunakan beberapa
konsentrasi standar dan nilai koefisien determinasi (R²). |
|
Rentang Kerja |
Disesuaikan dengan rentang konsentrasi standar yang
digunakan. |
|
Limit Deteksi (LOD) |
Ditentukan sesuai prosedur laboratorium atau data hasil
verifikasi. |
|
Limit Kuantitasi (LOQ) |
Ditentukan sesuai prosedur laboratorium atau data hasil
verifikasi. |
|
Ketidakpastian Pengukuran |
Diestimasi berdasarkan seluruh sumber ketidakpastian. |
10. Data yang Dikumpulkan Saat Verifikasi
Dilakukan minimal 7 kali ulangan.
Data
yang dicatat:
·
Absorbansi
larutan standar.
·
Absorbansi
sampel.
·
Persamaan
regresi.
·
Nilai
R².
·
Konsentrasi
Pb (mg/L).
·
Nilai Recovery (%).
Selanjutnya
dihitung:
·
Rata-rata
(Mean)
·
Standar
Deviasi (SD)
·
Relative
Standard Deviation (RSD)
Rumus
11. Kriteria Keberterimaan
A. Presisi
·
Nilai %RSD memenuhi kriteria
laboratorium atau mengacu pada persamaan Horwitz bila relevan.
B. Akurasi
·
Nilai Recovery umumnya berada pada
kisaran 90–110%
atau sesuai kriteria laboratorium dan metode.
C. Bias
·
Tidak
menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap nilai acuan atau CRM.
D. Linearitas
·
Koefisien
determinasi (R²)
memenuhi kriteria laboratorium (misalnya ≥ 0,995).
E. Ketidakpastian Pengukuran
·
Ketidakpastian
telah dihitung dan sesuai dengan tujuan penggunaan metode.
12. Dokumen yang Harus Disiapkan
·
SOP
Cara Uji Timbal (Pb) dengan SSA-Nyala.
·
Formulir
pencatatan hasil pengujian.
·
Formulir
perhitungan hasil.
·
Data
mentah hasil pengujian.
·
Sertifikat
kalibrasi SSA.
·
Sertifikat
kalibrasi pipet, labu ukur, dan neraca analitik.
·
Sertifikat
larutan standar/CRM (apabila digunakan).
·
Laporan
verifikasi metode.
·
Perhitungan
ketidakpastian pengukuran.
13. Kesimpulan Verifikasi
Metode dinyatakan terverifikasi apabila:
·
Presisi
memenuhi kriteria yang ditetapkan.
·
Akurasi
(recovery) memenuhi
persyaratan.
·
Tidak
terdapat bias yang signifikan.
·
Linearitas
kurva kalibrasi memenuhi kriteria.
·
Peralatan
berfungsi sesuai spesifikasi dan telah dikalibrasi.
·
Personel
mampu melaksanakan metode sesuai SNI
06-6989.8-2004.
· Ketidakpastian pengukuran telah diestimasi dan dapat diterima sesuai persyaratan SNI ISO/IEC 17025:2017.