MAKNA LAMBANG PROVINSI JAWA TIMUR
01 Bingkai Perisai
Simbol keamanan, ketentraman, dan kejujuran. Perisai menggambarkan kondisi Jatim yang aman dan damai.
02 Bintang Emas
Simbol Ketuhanan Yang Maha Esa. Sudut lima dan bersinar melambangkan Pancasila sebagai dasar falsafah negara yang senantiasa dijunjung tinggi dan menyinari jiwa rakyat Jawa Timur.
03 Tugu Pahlawan
Menggambarkan semangat kepahlawanan dan perjuangan rakyat Jawa Timur dalam mempertahankan kedaulatan tanah air dan bangsa.
04 Gunung Berapi
Simbol keteguhan dan kejayaan tekad dengan semangat dinamis, revolusioner, dan pantang menyerah menuju cita-cita rakyat Adil dan Makmur.
05 Pintu Gerbang
Berbentuk candi warna abu-abu melambangkan semangat patriotisme yang tetap hidup dan hadir dari masa ke masa.
06 Sawah & Ladang
Lambang kemakmuran. Sawah dan ladang di Jatim menjadi sumber dan alat mencapai untuk kemakmuran.
07 Padi & Kapas
Lambang sandang pangan kebutuhan pokok rakyat. Gambar 17 butir padi, dan 8 buah kapas menandakan momen keramat bagi bangsa Indonesia, yaitu 17-8-1945.
08 Sungai
Simbol kekayaan sumber daya air yang dipakai untuk pertanian dan sumber kemakmuran Jatim.
09 Roda Berantai
Menggambarkan pembangunan industri Jatim yang berkembang pesat, dan tekad yang tak kunjung padam, serta ikatan persahabatan warga Jatim dengan pendatang dari manapun.
10 Pita Bertuliskan Jawa Timur
Lambang daerah Provinsi Jawa Timur. Pita dasar putih bertulis Jer Basuki Mawa Beya merupakan motto Jawa Timur yang berarti bahwa untuk mencapai kebahagiaan diperlukan pengorbanan.
Jer Basuki Mawa Béya
Jer basuki mawa béya (Jv: ꦗꦼꦂꦧꦱꦸꦏꦶꦩꦮꦧꦺꦪ) adalah ajaran etika Jawa yang menegaskan bahwa setiap keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan selalu menuntut pengorbanan. Tidak akan ada hasil besar tanpa mengerjakan usaha besar. Falsafah ini mengingatkan kita bahwa jalan menuju kemajuan memerlukan biaya, baik tenaga, waktu, pikiran, maupun materi. Dalam kehidupan sosial, ungkapan ini menanamkan kesadaran bahwa tanggung jawab harus dijalankan, dan kesejahteraan bersama hanya dapat tercapai bila semua pihak mau berkontribusi. Jer Basuki Mawa Beya ini juga mendorong kedisiplinan, kerja keras, dan sikap realistis dalam menghadapi tantangan, sehingga seseorang tidak mudah menyerah atau berharap hasil yang gemilang tanpa adanya perjuangan.
Pada masa pembangunan sekarang ini, Jer basuki mawa beya berarti setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan. Pepatah dan semboyan tersebut kiranya cukup tepat untuk menggambarkan perlunya pengerahan berbagai sumber daya guna keberhasilan pelaksanaan pembangunan dan revaluasi Barang Milik Negara (BMN), misalnya, termasuk dana serta anggaran tentunya. Apalagi revaluasi BMN ini merupakan hajatan yang cukup besar bagi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN)
Arti secara harfiah
Berasal dari bahasa Jawa, Jer basuki mawa beya ini terdiri dari 4 buah kata:
Jer artinya isi / inti / sebenar-benarnya
Basuki berarti selamat, berhasil, sejahtera
Mawa bermakna membawa / memerlukan, dan
Béya artinya biaya, ongkos, pengorbanan.
Sehingga secara harfiah, ungkapan “Jer Basuki Mawa Béya” ini berarti setiap kesuksesan (basuki) memerlukan pengorbanan (béya/biaya). Jadi semboyan dan moto ini mengajarkan bahwa setiap keberhasilan, kesuksesan, kesejahteraan dan keselamatan menuntut pengorbanan. Prinsip dan pedoman falsafah ini menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa perjuangan, kerja keras, serta kesediaan berkorban adalah syarat utama untuk mencapai tujuan mulia.
Sebagai Semboyan di masa Perjuangan Kemerdekaan
Dalam perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang, falsafah “Jer basuki mawa béya” tampak jelas dalam setiap pengorbanan para pahlawan. Kemerdekaan tidak datang begitu saja; kemerdekaan menuntut biaya berupa keberanian, penderitaan, kehilangan, dan pengorbanan jiwa. Rakyat dan pejuang rela meninggalkan kenyamanan demi cita-cita merdeka. Mereka memahami bahwa keselamatan bangsa harus dibayar dengan keteguhan hati dan semangat pantang menyerah (rawe-rawe rantas). Setiap perlawanan, dari gerilya hingga diplomasi, mencerminkan kesadaran bahwa kebebasan memiliki harga. Melalui prinsip ini, generasi masa kini diingatkan bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan panjang yang memerlukan pengorbanan tanpa pamrih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar