|
1.
Pengertian |
a. Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)
adalah instrumen analitik yang digunakan untuk menentukan kadar unsur logam
berdasarkan pengukuran absorbansi radiasi pada panjang gelombang
karakteristik unsur setelah atomisasi sampel. b. Pengujian kadar logam adalah kegiatan
analisis untuk menentukan konsentrasi unsur logam tertentu dalam sampel
dengan metode AAS sesuai metode pengujian yang telah ditetapkan atau
diverifikasi. c.
Larutan
standar adalah larutan yang mempunyai konsentrasi unsur logam diketahui dan
digunakan untuk membuat kurva kalibrasi. d. Blanko adalah larutan yang mengandung
seluruh komponen reagen yang digunakan dalam preparasi, tetapi tidak
mengandung analit secara sengaja, yang digunakan untuk mengetahui adanya
kontaminasi atau kontribusi absorbansi dari reagen. e. Kurva kalibrasi adalah hubungan antara
konsentrasi larutan standar dengan respons instrumen, umumnya berupa
absorbansi. f.
Preparasi/digesti
sampel adalah proses pengolahan sampel menggunakan reagen tertentu, umumnya
asam, untuk melarutkan atau melepaskan unsur logam dari matriks sampel
sehingga dapat dianalisis. g. Quality Control (QC) adalah kegiatan
pengendalian mutu untuk memastikan hasil pengujian berada dalam kondisi
terkendali dan memenuhi kriteria keberterimaan yang telah ditetapkan. |
|
2.
Tujuan |
Instruksi kerja ini bertujuan untuk: a. Menetapkan tata cara pengujian kadar
logam menggunakan AAS secara sistematis, benar, aman, tertelusur, dan
terdokumentasi. b. Memastikan proses preparasi sampel,
kalibrasi, pengukuran, pengolahan data, dan pelaporan hasil dilakukan secara
konsisten. c.
Meminimalkan
kesalahan yang dapat menyebabkan hasil pengujian tidak akurat atau tidak
presisi. d. Menjamin validitas hasil pengujian
melalui penerapan blanko, standar, QC, dan kriteria keberterimaan. e. Menjamin keselamatan personel selama
penggunaan bahan kimia, gas, api, dan instrumen AAS. |
|
3.
Ruang Lingkup |
Instruksi kerja ini berlaku untuk
kegiatan pengujian kadar unsur logam menggunakan AAS di laboratorium,
meliputi: a. Penerimaan dan pemeriksaan kondisi
sampel. b. Persiapan alat, bahan, dan larutan
standar. c.
Preparasi
dan digesti sampel. d. Pembuatan larutan blanko dan larutan
standar. e. Pengaturan dan pemeriksaan kondisi
AAS. f.
Pembuatan
dan evaluasi kurva kalibrasi. g. Pengukuran blanko, standar, sampel,
dan QC. h. Pengenceran sampel apabila diperlukan. i.
Perhitungan
kadar logam. j.
Evaluasi
hasil pengujian. k.
Pencatatan
dan pelaporan hasil. l.
Penanganan
kondisi tidak memenuhi kriteria keberterimaan. |
|
4.
Kebijakan/Acuan |
a. SNI ISO/IEC 17025:2017 tentang
Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium
Kalibrasi. b. Metode pengujian SNI yang berlaku
sesuai jenis sampel dan unsur logam yang diuji. c.
Metode
standar internasional atau metode resmi lainnya yang telah ditetapkan
dan/atau diverifikasi oleh laboratorium. d. Manual pengoperasian Atomic Absorption
Spectrophotometer (AAS) yang digunakan. e. Certificate of Analysis (CoA) dan/atau
sertifikat bahan acuan/CRM yang digunakan. f.
Safety
Data Sheet (SDS/MSDS) untuk bahan kimia dan gas yang digunakan. g. Prosedur pengendalian dokumen dan
rekaman laboratorium. h. Prosedur keselamatan dan kesehatan
kerja laboratorium. i.
Prosedur
pengelolaan limbah laboratorium. j.
Metode
yang telah divalidasi/verifikasi, termasuk parameter seperti linearitas,
presisi, akurasi/recovery, LOD, LOQ, dan ketidakpastian pengukuran, sesuai
kebutuhan metode. |
|
5.
Peralatan dan bahan |
5.1 Peralatan a.
Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). b.
Lampu katoda berongga (Hollow Cathode
Lamp/HCL) sesuai unsur yang dianalisis. c.
Burner head sesuai jenis flame. d.
Nebulizer dan spray chamber. e.
Kompresor udara/sistem udara instrumen. f.
Tabung gas bahan bakar, misalnya asetilena,
sesuai spesifikasi instrumen. g.
Hot plate/digestion block/microwave digestion
sesuai metode. h.
Neraca analitik. i.
Pipet volumetrik/mikropipet. j.
Labu ukur berbagai volume. k.
Gelas ukur. l.
Gelas piala. m.
Erlenmeyer. n.
Tabung atau botol sampel. o.
Corong. p.
Kertas saring/membran filter apabila
dipersyaratkan metode. q.
Botol semprot. r.
Vortex/shaker apabila diperlukan. s.
Termometer atau alat pemantau kondisi
lingkungan. t.
Alat ukur lain sesuai metode pengujian. 5.2 Bahan a.
Sampel yang akan diuji. b.
Larutan standar logam/CRM sesuai unsur yang
dianalisis. c.
Asam nitrat (HNO₃) atau asam lain sesuai metode. d.
Asam klorida (HCl), apabila dipersyaratkan
metode. e.
Hidrogen peroksida (H₂O₂), apabila
diperlukan untuk proses digesti. f.
Air bebas ion/air ultrapure sesuai persyaratan
metode. g.
Larutan blanko. h.
Larutan QC/check standard. i.
Gas bahan bakar sesuai spesifikasi AAS. j.
Udara/oksidator sesuai spesifikasi AAS. k.
Bahan kimia lain sesuai metode pengujian. Catatan: Semua bahan kimia harus
diperiksa identitas, konsentrasi, kemurnian, nomor lot, masa berlaku, dan
kondisi penyimpanannya sebelum digunakan. |
|
6.
Prosedur/Langkah Kerja |
6.1 Persiapan Dokumen dan Sampel a.
Periksa
permintaan pengujian dan identitas sampel. b.
Pastikan
jenis sampel, parameter logam, metode pengujian, dan satuan hasil telah
ditentukan. c.
Periksa
kondisi fisik sampel dan kesesuaian identitas dengan dokumen penerimaan. d.
Pastikan
sampel telah disimpan sesuai persyaratan metode. e.
Homogenkan
sampel sesuai karakteristik dan metode pengujian. f.
Berikan
kode/identitas pada seluruh wadah hasil preparasi. g.
Catat
seluruh informasi yang diperlukan pada lembar kerja pengujian. 6.2 Persiapan Alat a.
Pastikan
AAS berada dalam kondisi bersih dan siap digunakan. b.
Periksa
kondisi: · burner; · nebulizer; · spray chamber; · tubing aspirasi; · drain system; · lampu HCL(Hollow Cathode Lamp); · sistem gas; · sistem udara/oksidator. c.
Pastikan
tidak terdapat kebocoran pada sistem gas. d.
Pastikan
gas yang digunakan sesuai dengan metode dan spesifikasi instrumen. e.
Nyalakan
AAS sesuai prosedur pengoperasian alat. f.
Lakukan
warm-up instrumen sesuai petunjuk pabrik. g.
Pasang
HCL sesuai unsur yang akan dianalisis. h.
Atur
parameter instrumen sesuai metode yang telah diverifikasi, meliputi: · panjang gelombang; · slit width; · lamp current; · jenis flame; · rasio bahan bakar dan oksidator; · burner height; · posisi burner; · waktu integrasi; · jumlah pembacaan; · parameter koreksi background apabila digunakan. i.
Pastikan
kondisi instrumen stabil sebelum pengukuran. 6.3 Preparasi dan Digesti Sampel Preparasi
dilakukan sesuai metode pengujian yang berlaku. Secara umum: a.
Homogenkan
sampel. b.
Timbang
atau pipet sejumlah sampel sesuai metode. c.
Masukkan
sampel ke dalam wadah digesti yang sesuai. d.
Tambahkan
reagen/asam sesuai prosedur metode. e.
Lakukan
proses digesti dengan kondisi suhu dan waktu yang ditentukan metode. f.
Hindari
pemanasan berlebihan yang dapat menyebabkan kehilangan analit atau
kontaminasi. g.
Setelah
digesti selesai, dinginkan larutan sampai kondisi yang sesuai. h.
Pindahkan
larutan secara kuantitatif ke labu ukur. i.
Tambahkan
air bebas ion sampai tanda batas. j.
Homogenkan
larutan. k.
Apabila
diperlukan, lakukan penyaringan untuk menghilangkan partikulat. l.
Simpan
larutan hasil preparasi dalam wadah yang sesuai dan berlabel. m.
Catat
seluruh volume, massa, pengenceran, dan perlakuan yang dilakukan. Hal yang harus dikendalikan · Hindari kontaminasi dari alat gelas. · Gunakan air dan reagen dengan kualitas sesuai metode. · Gunakan blanko preparasi. · Gunakan alat volumetrik yang sesuai. · Hindari kehilangan larutan selama pemindahan. · Catat setiap pengenceran yang dilakukan. 6.4 Pembuatan Larutan Standar a.
Gunakan
larutan standar/CRM yang sesuai dengan unsur yang dianalisis. b.
Periksa
konsentrasi, nomor batch/lot, tanggal kedaluwarsa, dan sertifikatnya. c.
Siapkan
larutan standar kerja dengan konsentrasi sesuai rentang kalibrasi metode. d.
Gunakan
alat volumetrik yang sesuai. e.
Lakukan
pengenceran secara teliti. f.
Beri
label pada setiap larutan standar. g.
Catat
konsentrasi dan perhitungan pengenceran. h.
Siapkan
blanko kalibrasi sesuai metode. 6.5 Pembuatan Kurva Kalibrasi a.
Aspirasi
larutan blanko. b.
Pastikan
respons blanko berada dalam kondisi yang dapat diterima. c.
Ukur
larutan standar dari konsentrasi rendah ke tinggi, atau sesuai urutan yang
ditetapkan metode/instrumen. d.
Catat
absorbansi masing-masing standar. e.
Buat
kurva hubungan antara: · sumbu X = konsentrasi standar · sumbu Y = absorbansi f.
Evaluasi: · linearitas; · slope; · intercept; · koefisien korelasi/R²; · residual apabila dipersyaratkan. g.
Pastikan
kurva kalibrasi memenuhi kriteria keberterimaan metode. h.
Jika
kurva tidak memenuhi kriteria, jangan melanjutkan pengujian sampel sebelum
dilakukan investigasi dan tindakan koreksi. 6.6 Pengukuran Sampel a.
Pastikan
larutan sampel berada dalam rentang kerja metode. b.
Aspirasi
larutan blanko atau larutan pencuci sesuai prosedur. c.
Aspirasi
larutan sampel. d.
Tunggu
sampai respons instrumen stabil. e.
Lakukan
pembacaan sesuai jumlah replikasi yang ditetapkan metode. f.
Catat
absorbansi dan/atau konsentrasi hasil pembacaan. g.
Apabila
hasil berada di atas rentang kalibrasi, lakukan pengenceran sampel. h.
Ukur
kembali larutan hasil pengenceran. i.
Catat
seluruh faktor pengenceran. j.
Lakukan
pembilasan sistem di antara sampel, terutama setelah sampel dengan
konsentrasi tinggi. k.
Apabila
terjadi perubahan respons instrumen yang tidak normal, hentikan pengukuran
dan lakukan pemeriksaan. 6.7 Pengukuran Blanko Blanko
digunakan untuk mengetahui kemungkinan kontribusi absorbansi atau kontaminasi
yang berasal dari: · reagen; · air; · wadah; · proses digesti; · proses preparasi; ·
sistem
aspirasi. Apabila
blanko menunjukkan nilai yang tidak memenuhi kriteria, lakukan investigasi
sebelum hasil sampel dilaporkan. 6.8 Pengendalian Mutu (Quality
Control) Selama
pengujian dilakukan pengendalian mutu sesuai metode, antara lain: a.
Calibration
blank/blanko kalibrasi. b.
Reagent
blank/preparation blank. c.
Continuing
Calibration Verification (CCV) atau standar pemeriksaan berkelanjutan,
apabila dipersyaratkan. d.
Quality
Control Sample/QC check standard. e.
Duplicate
sample apabila dipersyaratkan. f.
Matrix
spike/fortified sample apabila dipersyaratkan. g.
CRM
apabila tersedia dan sesuai. Hasil
QC harus memenuhi kriteria keberterimaan yang telah ditetapkan sebelum hasil
sampel dinyatakan valid. 6.9 Pemeriksaan Stabilitas Sistem Selama
rangkaian pengujian, periksa: a.
Stabilitas
absorbansi. b.
Stabilitas
flame. c.
Stabilitas
baseline. d.
Respons
standar QC. e.
Kondisi
blanko. f.
Kondisi
kurva kalibrasi. g.
Kondisi
nebulizer dan burner. h.
Tekanan
dan ketersediaan gas. Apabila
terjadi drift atau perubahan respons yang signifikan, lakukan pemeriksaan dan
kalibrasi ulang apabila diperlukan. 6.10 Perhitungan Kadar Logam Kadar logam
dihitung berdasarkan konsentrasi yang diperoleh dari kurva kalibrasi dan
memperhitungkan faktor preparasi/pengenceran. Secara umum: Csampel = Cinstrumen
× FP Untuk sampel berbasis massa:
Keterangan: Cinstrumen = konsentrasi yang terbaca dari instrumen V =
volume akhir larutan hasil preparasi FP =
faktor pengenceran m =
massa sampel Catatan:
Rumus akhir harus disesuaikan dengan metode pengujian, bentuk sampel, satuan
yang dipersyaratkan, serta seluruh tahapan preparasi. 6.11 Evaluasi Hasil Sebelum hasil
dilaporkan, analis memeriksa: a.
Kurva
kalibrasi memenuhi kriteria. b.
Blanko
memenuhi kriteria. c.
QC
memenuhi kriteria. d.
Hasil
berada dalam rentang pengukuran yang sesuai. e.
Faktor
pengenceran telah diperhitungkan. f.
Tidak
terdapat indikasi kontaminasi. g.
Hasil
pengulangan memenuhi kriteria presisi. h.
Tidak
terdapat kesalahan transkripsi. i.
Satuan
hasil telah benar. j.
Seluruh
data mentah tersedia dan dapat ditelusuri. 6.12 Kondisi Tidak Memenuhi
Kriteria Apabila terjadi
kondisi berikut: a.
kurva
kalibrasi tidak memenuhi syarat; b.
blanko
terlalu tinggi; c.
QC
tidak memenuhi syarat; d.
absorbansi
tidak stabil; e.
flame
tidak stabil; f.
hasil
duplo tidak memenuhi kriteria; g.
terjadi
drift instrumen; h.
hasil
berada di luar rentang kalibrasi; i.
terdapat
indikasi kontaminasi; maka: a.
Hentikan
sementara proses pengujian apabila diperlukan. b.
Identifikasi
penyebab ketidaksesuaian. c.
Periksa
kondisi instrumen. d.
Periksa
larutan standar dan reagen. e.
Periksa
blanko. f.
Periksa
preparasi sampel. g.
Lakukan
pembersihan nebulizer/burner apabila diperlukan. h.
Lakukan
kalibrasi ulang jika diperlukan. i.
Ulangi
pengukuran setelah penyebab diketahui dan dikendalikan. j.
Dokumentasikan
penyimpangan dan tindakan yang dilakukan. 6.13 Penyelesaian Pengujian a.
Bilas
sistem aspirasi dengan larutan pencuci/air yang sesuai. b.
Pastikan
tidak ada sisa larutan konsentrasi tinggi dalam sistem. c.
Matikan
flame sesuai urutan pengoperasian alat. d.
Matikan
aliran gas sesuai prosedur. e.
Matikan
AAS sesuai instruksi pabrik. f.
Bersihkan
area kerja. g.
Bersihkan
peralatan yang digunakan. h.
Simpan
standar dan reagen sesuai persyaratan. i.
Kelola
sisa sampel dan limbah sesuai prosedur. j.
Lengkapi
lembar kerja dan rekaman pengujian. k.
Simpan
data hasil pengukuran dan data mentah secara tertelusur. Alur singkat pengujian Penerimaan
& identifikasi sampel ↓ Homogenisasi
sampel ↓ Preparasi/digesti ↓ Pembuatan
blanko & standar ↓ Persiapan
dan pemeriksaan AAS ↓ Kalibrasi
instrumen ↓ Verifikasi
QC/CCV ↓ Pengukuran
sampel ↓ QC
& evaluasi hasil ↓ Perhitungan
kadar ↓ Verifikasi
data ↓ Pelaporan
hasil ↓ Pembersihan
alat & pengelolaan limbah |
|
7.
Keselamatan Kerja |
7.1 Alat Pelindung Diri Selama pengujian wajib
menggunakan: a.
Jas laboratorium. b.
Masker sesuai risiko pekerjaan. c.
Sarung tangan yang sesuai. d.
Safety goggles/pelindung mata. e.
Sepatu tertutup. f.
APD tambahan sesuai risiko bahan kimia yang digunakan. 7.2 Keselamatan Bahan Kimia a.
Baca SDS/MSDS sebelum menggunakan bahan kimia. b.
Penanganan asam pekat dilakukan dengan hati-hati dan sesuai
prosedur. c.
Preparasi asam dilakukan di lemari asam/fume hood apabila
dipersyaratkan. d.
Jangan mencampurkan bahan kimia secara sembarangan. e.
Penambahan asam dilakukan dengan teknik yang aman sesuai
prosedur. f.
Hindari kontak bahan kimia dengan kulit dan mata. g.
Simpan bahan kimia sesuai kompatibilitas dan persyaratan
penyimpanan. 7.3 Keselamatan AAS dan Flame a.
Pastikan personel telah kompeten mengoperasikan AAS. b.
Periksa sambungan dan selang gas sebelum menyalakan flame. c.
Jangan menggunakan sistem gas yang menunjukkan kebocoran. d.
Pastikan ventilasi ruangan memadai. e.
Jangan meninggalkan flame tanpa pengawasan. f.
Jauhkan bahan mudah terbakar dari area flame. g.
Jangan menyentuh burner setelah pengoperasian karena dapat
bersuhu tinggi. h.
Matikan flame dan gas sesuai urutan yang ditetapkan pabrik. 7.4 Penanganan Tumpahan dan Paparan a.
Segera hentikan aktivitas apabila terjadi tumpahan. b.
Gunakan APD sesuai risiko. c.
Tangani tumpahan sesuai SDS dan prosedur penanganan tumpahan
laboratorium. d.
Jika terjadi paparan pada mata, kulit, atau saluran pernapasan,
lakukan tindakan pertolongan pertama sesuai SDS dan prosedur keselamatan
laboratorium. e.
Laporkan kejadian kepada penanggung jawab laboratorium. f.
Dokumentasikan kejadian dan tindakan yang dilakukan. 7.5 Limbah a.
Limbah hasil digesti dan larutan yang mengandung logam dikategorikan
dan dikelola sesuai prosedur limbah laboratorium. b.
Jangan membuang larutan yang mengandung logam langsung ke
saluran pembuangan kecuali secara eksplisit diperbolehkan oleh prosedur dan
ketentuan yang berlaku. c.
Limbah asam dan limbah yang mengandung logam dikumpulkan dalam
wadah yang sesuai. d.
Berikan label pada wadah limbah. e.
Lakukan pengelolaan lebih lanjut sesuai prosedur pengelolaan
limbah laboratorium. |
|
8.
Unit Terkait |
a. Laboratorium Pengujian ·
Melaksanakan preparasi, pengukuran, perhitungan, evaluasi, dan
pencatatan hasil. b. Penanggung Jawab/Penyelia
Laboratorium ·
Memastikan pelaksanaan pengujian sesuai metode. ·
Memverifikasi kompetensi personel. ·
Memeriksa hasil dan QC. ·
Melakukan evaluasi apabila terjadi ketidaksesuaian. c. Petugas Penerimaan Sampel ·
Melakukan penerimaan, identifikasi, registrasi, dan penyimpanan
sampel. d. Petugas Mutu ·
Memastikan penerapan sistem manajemen mutu. ·
Memantau dokumen, rekaman, dan ketidaksesuaian. e. Petugas K3/Laboratorium ·
Memantau penerapan keselamatan kerja, APD, bahan kimia, dan penanganan
keadaan darurat. f. Pengelola Peralatan ·
Memastikan pemeliharaan, kalibrasi/verifikasi, dan status kelayakan
AAS. g. Pengelola Limbah ·
Memastikan limbah hasil pengujian dikelola sesuai prosedur yang
berlaku. |
|
9.
Dokumen
Terkait |
a.
Formulir
penerimaan sampel. b.
Formulir/lembar
kerja pengujian kadar logam. c.
Logbook
penggunaan AAS. d.
SOP/instruksi
kerja pengoperasian AAS. e.
SOP
preparasi/digesti sampel. f.
SOP
pembuatan larutan standar. g.
SOP
pengenceran larutan. h.
SOP
pengendalian mutu hasil pengujian. i.
SOP
penggunaan alat pelindung diri (APD). j.
SOP
penanganan tumpahan dan paparan sampel/bahan kimia. k.
SOP
pengelolaan limbah laboratorium. l.
SOP
penyimpanan alat, bahan, dan reagen. m.
SDS/MSDS
seluruh bahan kimia yang digunakan. n.
Sertifikat
larutan standar/CRM. o.
Sertifikat
kalibrasi/verifikasi AAS dan alat ukur pendukung. p.
Rekaman
pemeliharaan AAS. q.
Rekaman
pengujian dan data mentah instrumen. r.
Metode/SNI
pengujian logam yang digunakan. s.
Dokumen
validasi/verifikasi metode. t.
Dokumen
estimasi ketidakpastian pengukuran. u.
Formulir
laporan hasil pengujian. v.
Formulir
penyimpangan/ketidaksesuaian dan tindakan perbaikan. |
Senin, 21 September 2026
INSTRUKSI KERJA PENGUJIAN KADAR LOGAM MENGGUNAKAN Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)
Langganan:
Postingan (Atom)
